Breaking News:

Perajin Tempe dan Tahu Mojokerto Bakal Mogok Produksi 3 Hari, Buntut Harga Kedelai Import Naik

Puluhan perajin tempe dan tahu di Kota/ Kabupaten Mojokerto ancam mogok produksi. Menyusul harga kedelai impor merangkak naik.

SURYA/MOHAMMAD ROMADONI
Paguyuban pengrajin tempe dan tahu di Mojokerto menyampaikan pernyataan aksi mogok produksi di kantor GAKOPTINDO di Jl Brawijaya, lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Rabu (30/12/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Puluhan perajin tempe dan tahu di Kota/ Kabupaten Mojokerto akan melakukan mogok produksi.

Ancaman mogok produksi tempe dan tahu ini menyusul harga kedelai impor merangkak naik.

Informasinya, kelompok perajin tempe dan tahu ini akan melakukan mogok massal selama tiga hari, mulai Jumat 1 Januari 2021 sampai Minggu (3/1/2021).

Baca juga: Pentupan Pendakian Gunung Semeru Diperpanjang Lagi, Mulai Hari Ini hingga 31 Maret 2021

Baca juga: Unggahan MYD di 2017 Jadi Sorotan, Ungkap Kerinduan, Tahun yang Sama Video Syur Gisel Dibuat

Mogok produksi secara massal ini dilatarbelakangi adanya kenaikan kedelai impor di pasaran dari harga Rp.7000 per kilogram yang kini naik menjadi Rp.9000 per kilogram.

Apalagi, kenaikan harga kedelai impor ini  tidak diimbangi dengan harga produksi tempe dan tahu lantaran pengrajin sulit untuk menaikkan harga di pasaran.

Ketua Paguyuban Pengrajin Tempe dan Tahu Mojokerto, Naryo menjelaskan, pihaknya sudah mengupayakan untuk menaikan harga jual produksi tempe dan tahu dipasaran menyusul kenaikan bahan baku utama kedelai impor yang melonjak naik dari Rp.7.000 kini mencapai Rp.9.000 per kilogram

"Kami sudah mengupayakan menaikan harga tempe dan tahu mencapai 10 sampai 20 persen yang kenyataannya sulit diterapkan di pasaran karena umumnya kami menjual pada pedagang di pasar-pasar tradisional," ungkapnya, Rabu (30/12/2020).

Baca juga: Tak Pacaran, Gisel Sengaja Undang MYD, Ada Transfer Setelahnya dan Kirim-kiriman Video Syur Lewat HP

Baca juga: Jumlah Kasus Covid-19 Kembali Meningkat, Pemkab Gresik Tunda Pembelajaran Tatap Muka

Dia mengatakan kelompok pengrajin tempe dan tahu menyadari kondisi pandemi virus Corona ( Covid-19 ) berdampak terhadap seluruh sektor secara global, termasuk mempengaruhi harga bahan baku kedelai impor.

"Kami minta kebijakan Pemerintah Pusat agar tidak menaikkan harga kedelai sampai 25 persen karena semakin memberatkan usaha," ucap Naryo pengrajin tempe asal Kota Mojokerto ini.

Halaman
12
Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved