Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Bahaya Pesawat Tua? Sriwijaya Air yang Jatuh Berumur 26 Tahun, Captain Vincent: Banyak Sekali Faktor
Satu yang menjadi sorotan dari peristiwa tersebut adalah mengenai umur pesawatnya yang sudah berusia 26,7 tahun.
Tapi, lanjutnya, dia akan menerbangkan pesawat tua selama pesawat itu dirawat secara baik.
"Saya pernah kok terbang dengan pesawat Airbus yang tahun 1992, saya pernah terbang kok dengan pesawat tua. Yang jelas adalah bagaimana dia di-maintain. Banyak juga pesawat tua yang di-well-maintained, sehingga ketika kita datang ke pesawat itu semuanya working properly," ujarnya.
Captain Vincent Raditya mengatakan, pesawat umurnya boleh saja tua, namun seandainya dia dirawat secara baik, saat ada kerusakan pasti akan diperbaiki.
Menurutnya, perawatan pesawat itu bukan hal main-main.
"Pesawat boleh tua, airframe boleh tua, tapi kan (misalnya) namanya avionik begitu rusak dia ganti, namanya mesin begitu ada masalah pasti dia repair. Dan ini bukan main-main ketika pesawat ini harus di-maintain, mereka punya manualnya sendiri. Jadi simpelnya pesawat ini ada rekomendasi kapan dia harus dicek," ujarnya.
Menurut Captain Vincent Raditya, pesawat sudah dikatakan tua ketika memasuki 50 ribu jam ke atas.
Namun, katanya, tidak ada limitasi di mana pesawat itu harus berhenti dioperasikan.
"Sampai pesawat-pesawat 1930-1940, kalau memang dia di-maintain dengan baik, masih bisa digunakan," ujarnya.
Baca juga: Pencarian Sriwijaya Air SJ 182 Hari Kedua, Temukan Serpihan Pesawat Hingga Black Box Terdeteksi
Baca juga: VIRAL TERPOPULER: Candaan Terakhir Captain Afwan - Pamit Terakhir Pramugara Sriwijaya Air yang Jatuh
Hanya saja, lanjut Captain Vincent Raditya, yang jadi masalah memang adalah biaya dari memperbaiki pesawat itu sendiri.
Semakin banyak jam terbang dari pesawat tersebut, akan lebih banyak pengecekan yang harus dilakukan.
Semakin banyak pengecekan, tentu saja membutuhkan semakin banyak biaya.
"Cuman yang jadi masalah adalah cost untuk memperbaiki pesawat itu. Semakin lama pesawat itu in-service, semakin banyak jam terbangnya, lebih banyak pengecekan yang harus dilakukan. Bukan saja dari air frame-nya, mesinnya juga sama."
"Jadi, airline itu semakin berpikir, ketika mereka harus replace replace (ganti) sendiri, tiba di satu titik mereka harus keluarkan uang terlalu besar, jadi enggak worth it lagi untuk dipertahankan pesawat ini," ujar Captain Vincent Raditya.
Jadi, lanjutnya, ketika sebuah pesawat tidak pantas lagi dipertahankan karena biaya perawatannya semakin tinggi, pilihannya adalah menggantinya dengan pesawat baru.
Pada umumnya, kata Captain Vincent Raditya, pesawat itu dinyatakan berhenti dioperasikan ketika biaya perawatannya melebihi dana yang dimiliki maskapai untuk perbaikan pesawatnya.
"Karena airline ini kan membawa penumpang. (Jadi) dihitung lagi dari total operating cost itu apakah masuk nih yang kita jual dengan penumpang itu sendiri dengan cargo itu sendiri, apakah bisa tutup dengan maintenance cost -nya itu," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Captain Vincent Raditya Sebut Umur Pesawat Tak Bisa Serta Merta Jadi Penyebab Pesawat Jatuh