Breaking News:

Banjir Terbesar di Wonoasri Jember Setelah 20 Tahun, Waspadai Banjir Susulan

Banjir yang melanda Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo merupakan banjir terbesar selama sekitar 20 tahun terakhir.

ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM/HUMAS PMI JEMBER
Petugas PMI Jember menerjang banjir di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember, Kamis (14/1/2021). 

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Banjir yang melanda Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember merupakan banjir terbesar selama sekitar 20 tahun terakhir.

Hal ini dituturkan oleh sejumlah warga desa setempat ketika berbincang dengan Surya (grup TribunJatim.com), Jumat (15/1/2021).

"Seingat saya, terakhir banjir seperti ini Tahun 2000. Banjir juga sampai masuk rumah saya. Kemudian rumah kami ditinggikan ketika renovasi, ternyata sekarang banjir besar lagi. Bahkan, prediksi kami keliru. Karena air yang masuk ke dalam rumah juga tinggi sampai sekitar 70 Cm," ujar Dian, warga Dusun Kraton Desa Wonoasri.

Dian dan suaminya berpikiran, air tidak akan setinggi itu. Karenanya, mereka hanya mengamankan beberapa barang.

Sedangkan kulkas, mesin cuci, juga sofa, hanya diganjal memakai bata yang tidak seberapa tinggi. Kemudian keluarga itu, mengungsi ke rumah saudara yang lebih aman.

Baca juga: Banjir di Tempurejo Jember Belum Surut, Pemerintah Desa Dirikan Dapur Umum untuk Menyuplai Makanan

Baca juga: Banjir di Wonoasri Kabupaten Jember Berangsur Surut, Ratusan Rumah Masih Terendam

"Ternyata air tinggi, rusak semua barang elektronik," imbuhnya. Sehingga keluarga Dian, berkesimpulan banjir yang melanda Kamis (14/1/2021) merupakan banjir terbesar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

"Hampir setiap musim penghujan, desa kami memang kebanjiran. Namun biasanya hanya di jalan atau ke halaman rumah. Makanya kan warga juga berinisiatif meninggikan rumah ketika merenovasi bangunan, atau mendirikan rumah. Ternyata yang beberapa tahun terakhir tidak pernah kemasukan air, kemarin kemasukan air juga," tuturnya.

Hal senada juga diakui Riati, tetangga Dian. Orang tuanya bercerita, banjir besar terakhir tahun 2000.

"Ketika itu rumah kami belum tinggi seperti sekarang pondasinya. Sekarang sudah tinggi, namun tetap kemasukan air dan kami mengungsi ke rumah saudara," ujarnya.

Pondasi rumah Dian maupun Riati ditinggikan sekitar 50 Cm dari permukaan tanah. Bahkan di daerah yang menuju arah sungai, atau menuju arah pembuangan air ketika banjir, pondasi rumah baru bisa ditinggikan lebih dari 50 Cm.

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Pipin Tri Anjani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved