Breaking News:

Warna pada Batang Pohon Eucalyptus Deglupta di Hutan Pelangi Bondowoso Muncul Secara Alami

Warna pada batang pohon eucalyptus deglupta di Hutan Pelangi Bondowoso muncul secara alami. Dipengaruhi oleh proses oksidasi.

SURYA/Danendra Kusuma
Seorang pengunjung tengah memandangi pohon di Hutan Pelangi, Bondowoso, 2021. 

Reporter: Danendra Kusuma| Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Beragam warna pada batang pohon eucalyptus deglupta yang tumbuh di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), Sumberwringin, Bondowoso, muncul secara alami.

Munculnya warna pada batang pohon itu dipengaruhi oleh proses oksidasi.

Tenaga Ahli Biologi di Ijen Geopark Wilayah Bondowoso, Rendy Setiawan menjelaskan, tumbuhan eucalyptus merupakan famili myrtaceae (jambu-jambuan).

Karateristik famili myrtaceae batang pohonnya akan mengalami pengelupasan.

Proses pengelupasan batang pohon terjadi setiap satu minggu.

"Khusus eucalyptus punya getah yang keluar saat batang mengelupas. Getah yang keluar itu membasahi batang tanaman. Kemudian, ada reaksi oksidasi antara getah dengan oksigen lalu menimbulkan gradasi warna," katanya kepada TribunJatim.com, Jumat (22/1/2021).

Baca juga: Nyaris Setahun Sepi Kerjaan, Pemandu Wisata Bondowoso Banting Setir Usaha Katering dan Dagang Online

Baca juga: Keunikan Hutan Pelangi Bondowoso Bikin Pengunjung Terpukau, Dipenuhi Pohon Eucalyptus Deglupta

Ia menyebutkan, biasanya pada proses pertama akan muncul warna biru pada batang yang diselimuti getah.

Bila getah sudah mengering, bisa berubah warna, di antaranya merah. Itu berlanjut hingga munculnya warna-warna lain.

"Eucalyptus deglupta adalah tanaman endemik asli wilayah Papua dan Maluku. Di wilayah itu, warna yang muncul lebih beragam, misal ada warna oranye, maroon dan violet. Kalau di Bondowoso yang menonjol warna hijau, biru, dan kuning. Suhu, kelembaban, intensitas cahaya juga mempengaruhi munculnya warna," sebutnya.

Baca juga: Sidak Komisi II DPRD Bondowoso di Pasar Induk Diwarnai Perseteruan Antarpedagang

Baca juga: Ingatkan Warga Soal Prokes, Polres Lumajang Tampilkan Data Penularan dan Kematian Covid-19 di Banner

Rendy mengungkapkan, eucalyptus deglupta diproduksi atau ditanam di wilayah Hutan Sumberwringin pada tahun 1937. Artinya, pohon tersebut telah berusia 83 tahun.

"Tanaman ini bisa hidup sampai ratusan tahun. Sehingga akan terus tumbuh menjulang," tutupnya.

Sementara itu, sekadar informasi Kabupaten Bondowoso bekerja sama dengan Kabupaten Banyuwangi mengajukan kawasan Ijen Geopark masuk dalam UNESCO Global Geopark (UGG).

Hutan Pelangi ini masuk dalam kawasan Ijen Geopark unsur Biological Sites (Situs Biologi) bersama Kopi Bondowoso.

Baca juga: Entrepreneur dan F&B Counsultant Chris Albion Ingin Terus Kembangkan Kuliner Tradisional Nusantara

Baca juga: Jumlah Wisatawan Taman Wisata Alam Kawah Ijen Masih Merosot di Awal Tahun 2021

Penulis: Danendra Kusuma
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved