Breaking News:

Virus Corona di Malang

Simak Alasan Pasien Komorbid Tak Bisa Vaksinasi Covid-19, Dinkes Kabupaten Malang: Membahayakan Jiwa

Dinkes Kabupaten Malang beber alasan alasan medis pasien komorbid tidak bias vaksinasi Covid-19 Sinovac: membahayakan keselamatan jiwa.

SURYAMALANG.COM/ERWIN WICAKSONO
Vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Puskesmas Kepanjen beberapa waktu lalu. 

Reporter: Erwin Wicaksono | Editor: Heftys Suud

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengatakan ada alasan medis penderita hipertensi dan penyakit penyerta (komorbid) tidak bisa mengikuti vaksinasi virus Corona ( Covid-19 ).

Kepala Puskesmas Kepanjen, dr Didik Sulistyanto menerangkan, calon penerima vaksin Covid-19 Sinovac harus pada kondisi kesehatan yang prima.

"Dikhawatirkan kalau dilakukan imunisasi dalam kondisi hipertensi, itu dikhawatirkan terjadi shock," beber Diduk ketika dikonfirmasi pada Senin (8/2/2021).

Bojonegoro Berdarah, Seorang Pemuda Tewas dan Dua Luka, Bermula dari Geber Gas, Polisi Ungkap Fakta

Roy Marten Positif Covid-19, Orang Tua Ini Kena Juga, Minta yang Sempat Bertemu Dengannya Tes PCR

Alasan tersebut membuat Didik menegaskan, penerima vaksin harus memiliki tensi yang normal. 

"Kenapa tensi itu harus normal, karena vaksinasi Covid-19 ini adalah vaksinasi yang baru dari penyakit yang juga baru. Kecuali kalau semula sudah memiliki hipertensi, itu tidak bisa buat istirahat atau tidur tetap aja tinggi," jelasnya.

Kata Didik, jika orang yang memiliki komorbid memaksakan diri vaksin Covid-19, makan akan membahayakan keselamatan jiwa.

"Selama ini orang-orang yang memiliki hipertensi sampai kencing manis itu komorbid yang kemudian hal yang sangat beresiko jika terkena Covid-19. Karena vaksin ini juga virus tapi virus yang sudah dimatikan. Khawatirnya ada hipertensi itu ada efek yang tidak baik," ungkapnya.

Jelang vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat umum, Didik menyatakan tenaga vaksinator telah berpengalaman menjalankan vaksinasi.

"Pengalaman terdahulu kalau semula tidak memiliki hipertensi, itu disuruh istirahat setengah sampai satu jam sudah turun. Atau datang keesokan harinya itu sudah normal," tutupnya. 

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved