Breaking News:

Cuaca Ekstrem, Hasil Panen Petani Cabai di Madiun Turun 50 Persen, Membusuk Hingga Kering dan Rontok

Akibat cuaca ekstrem, hasil panen petani cabai di Madiun turun 50 persen, tanaman membusuk hingga kering dan rontok.

TRIBUNJATIM.COM/RAHADIAN BAGUS
Tanaman cabai di Kabupaten Madiun membusuk akibat curah hujan yang tinggi, Selasa (2/3/2021). 

Reporter: Rahadian Bagus | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Cuaca ekstrem pada musim penghujan mengakibatkan para petani cabai mengeluh.

Cabai yang ditanam para petani sebagian besar busuk, sehingga mereka mengalami gagal panen.

"Iklim yang ekstrem seperti sekarang ini berdampak bagi pertanian, komoditas tertentu seperti hortikultura sangat rawan terhadap cuaca ekstrem, sehingga berdampak. Misalnya, cabai saat ini harganya meningkat karena memang tingkat keberhasilan petani semakin kecil, produktivitas menurun, biaya produksi meningkat," kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Sumanto, Selasa (2/3/2021).

Ia mengatakan, tidak hanya cabai, hampir seluruh komoditas pertanian juga ikut terdampak akibat cuaca dan hama. Di antaranya bawang merah dan buah-buahan.

"Kuncinya pengamatan, tanaman pangan hortikultura paling tidak tiga hari sekali diamati, kalau memang ada tanda-tanda hama penyakit harus segera dikendalikan, kalau memang musuh alami tidak ada atau sedikit dikendalikan dengan bahan kimia supaya tingkat kerusakan bisa ditekan serendah mungkin," jelasnya.

Baca juga: Stasiun Madiun Mulai Sediakan Layanan Pemeriksaan GeNose C19, Cuma Rp 20 Ribu

Baca juga: Kebun Durian Kembang Kuning Madiun Tawarkan Kelezatan Durian Langsung dari Pohon Kaki Gunung Wilis

Dia mengatakan, di Kabupaten Madiun luas lahan cabai sekitar 50 hingga 60 hektare, tersebar di tiap kecamatan.

Namun, sebagian besar cabai ditanam di Kecamatan Geger, Dolopo, Dagangan, dan Kebonsari.

"Produktivitas sangat menurun karena iklim, adanya curah hujan yang tinggi akhirnya menyebabkan sistem pengendalian hama penyakit juga terganggu, contohnya setelah disemprot turun hujan otomatis sia-sia," jelasnya.

Seorang petani di Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, bernama Syahroni mengeluh karena dari 1600 meter persegi lahan cabai miliknya, hampir seluruhnya rusak dan membusuk.

Baca juga: Tergoda Bisnis Batu Bara di Kalimantan, Petani Madiun Gadaikan 3 Mobil Temannya Buat Tambah Modal

Baca juga: Cegah Longsor dan Banjir di Madiun, Pemkab Akan Tanam Akar Wangi di Sejumlah Lahan Kritis

Kerusakan tanaman cabai ini sudah berlangsung sekitar sebulan. Cabai mulai membusuk, hingga akhirnya kering dan rontok. 

"Sebelumnya, dari lahan 1600 meter persegi, dapat menghasilkan 150 kilogram sekali panen, sekarang tinggal separuhnya saja, 70 hingga 80 kilogram sekali panen," keluhnya.

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved