Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Tips Memilih Teman dan Tangis Gus Baha ke TKI

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, ulama kharismatik asal Rembang mengingatkan dalam memilih teman.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha dan Gus Firjoun saat di Haul KH Achmad Shiddiq Jember 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK -K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, ulama kharismatik asal Rembang , Jawa tengah ini selalu mengingatkan dalam memilih teman. Hal ini relevan di jaman sekarang yang sedikit-sedikit mendapat cibiran dan komentar.

“Saya selalu teringat pesan para ulama besar dari mulai Sayidina Ali sampai Imam Syafi’i, dalam memilih teman. Janganlah kamu berteman dengan orang yang tidak siap melihatmu berbuat salah. Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Lebih berbahaya lagi karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong,” kat Gus Baha yang juga santri kesayangan KH maomoen Zubair tersbeut.

Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Dan lebih berbahaya lagi, karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong

Di mata orang seperti itu, ini salah. Itu salah. Tidak terbuka peluang bagi orang untuk memperbaiki diri. Pernah, seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan. Kata Tuhan, “Lha kalau kamu tidak berbuat salah, lalu di mana letak kehebatan sifat pengampunKu?” papar Kiai kelahiran Rembang Jawa Tengah 29 September 1970 tersebut.

Baca juga: Gus Baha : Kalau Berbuat Maksiat Jangan Diceritakan, Imbasnya Ini

Baca juga: Kunjungi Kesultanan Kukar, LaNyalla Perjuangkan Hari Kebudayaan dan Agendakan Kongres Raja Nusantara

Baca juga: Gus Dur Ungkap Tingginya Rahasia Kewalian Gus Miek dan Benteng Terakhir Semaan Al Quran

Sementara Nabi sendiri kata Gus Baha mensifati umatnya, dan melukiskan kebesaran Tuhan salah satunya dalam bentuk betapa dhaifnya manusia dan betapa besarnya pengampunan Tuhan. Anak cucu Adam itu senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baiknya mereka adalah yang lekas meminta ampunan.

Ini berbeda sama sekali dengan orang Khawarij (dibaca Kowaarij) yakni keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin.
Kaum ini sering mencap orang yg berbuat salah dan maksiat telah keluar dari Islam.

Sementara Tuhan menyeru, sebanyak apapun kesalahan dan dosa hambaNya, jangan pernah berputus asa dari ampunan Tuhan. Aneh sekali kaum Khawarij ini yg justru ‘mengusir’ orang yg sudah masuk Islam hanya karena berbuat salah, sementara Tuhan selalu mengulurkan tangan agar orang yangg berbuat salah tak berputus asa

Ada kisah orang alim yg selalu dijadikan contoh oleh Gus Baha dalam konteks ini. Beliau adalah Mbah Nafi’. Waktu sudah dianggap alim, oleh sesepuh dan guru-gurunya ya, Mbah Nafi’ diminta mengajar mengaji.

"Tapi beliau menolak karena takut salah. Akhirnya beliau diundang oleh guru-gurunya dan diberitahu: Kamu keliru kalau tidak mau mengajar karena takut salah. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang takut berbuat salah justru orang yang sombong. Kamu itu bukan Nabi kok takut berbuat salah. Semenjak itu Mbah Nafi’ mau mengajar," ujarnya.

Tangis Gus Baha Untuk TKI

Gus Baha terkadang menangis di depan Allah SWT ketika melihat orang Indonesia yang bekerja mencari uang di luar negeri, seperti di Korea, Taiwan, Malaysia. Kendati mereka bekerja di luar negeri di negara Ateis seperti Korea. Tapi mereka masih bisa memberikan kontribusi untuk syiar Islam.

Menurut Gus Baha, mungkin iman orang yang mencari kerja atau mahasiswa di beberapa negara tersebut biasa saja, tapi mereka bisa membangun komunitas masjid. Sementara, jika mereka tinggal di kampung halamannya mungkin hanya menjadi orang-orang yang sering komplain.

“Jadi kalau di daerah yang Islamnya sudah sehat agak-agak komplain, krannya buntu saja sudah geger. Tapi ketika dia di daerah yang tidak ada masjid, berikhtiar untuk bikin masjid,” ujar Gus Baha.

Gus Baha menjelwskan, kemapanan yang terlalu lama itu terkadang hanya melahirkan orang yang ingin komplain. Sedangkan yang tidak mapan sama sekali malah menjadikan orang itu heroik. Misalnya, ketika negara ini sudah sehat mungkin orang malah menuntut negara.

"Pada zaman sebelum berbentuk negara, semua orang justru ingin memberikan hartanya bahkan nyawanya untuk memerdekan Indonesia. ketika sudah mapan usahakan selalu ada keinginan untuk memberi. Semuanya kita termasuk setelah mapan itu usahakan hubungan itu hubungan heroik, sehingga inginnya memberi,” ucap ulama berusia 50 tahun ini.

Rais Syuriah PBNU ini memamparkan, bahwa saat ini banyak problem di beberapa negara. Itu semua karena rakyatnya ingin mendapatkan sesuatu dari negaranya, bukan berusaha memberikan sesuatu kepada negaranya.

“Kalau semua orang yang pintar, yang bodoh, setengah pintar, hubungannya dengan negara ingin mendapat, maka negara bisa keteteran. Tapi kalau hubungamnya ingin memberi, Insya Allah semuanya akan selamat. Intinya agama ini menitikberatkan supaya hubungan kita dengan orang lain atau dengan negara itu kalau bisa hubungamnya itu ingin memberi, bukan ingin mendapatkan,” Papar Gus Baha.

Berita tentang Gus Baha

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved