Breaking News:

Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Jadi Dai dan Belajar Agama Tidak Bisa Secara Otodidak, Ini Syaratnya Kata Gus Baha

Benarkah belajar ilmu agama bisa dilakukan tanpa guru ? mengingat zaman sekarang sudah banyak - fasilitas terjemah Al Qur’an, Hadits bahkan kitab- kit

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Instagram.com/@gusbahaonline
Gus Baha atau Kiai dengan nama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim. 

"Pentingnya transmisi keilmuan ini untuk menjaga keotentikan ajaran agama Islam agar sesuai aslinya dan bersambung kepada sumber utamanya," jelasnya.

“Kenapa kita harus menyebut sanad imam - imam kita, pertanyaannya kamu kok tahu kalau sahabat melakukan itu kata siapa? kata guru saya kan ? kamu tidak bisa langsung mengatakan kata Nabi karna hidup tidak se zaman, kata Nabi itu rawinya siapa ? Imam Bukhari, Imam bukhari itu siapa ? muridnya Imam Syafii, sehingga mau tidak mau kita harus menyebut ulama,” ujar dari suami Ning Winda yang juga masih putra Kiai di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur

“Misalnya kamu ditanya tahu Amerika dari mana? dari TV, wong TV aja kamu jadikan sanad masak Imam Syafi’i tidak. Misalnya sebagai contoh kamu tahu Nabi dari saya dan saya itu muridnya Kyai Maimoen, Kyai Maimoen muridnya Kyai Zubair, Kyai Zubair muridnya Kyai Faqih Maskumambang, Kyai Faqih muridnya Kyai Mahfudh Tremas, Kyai Mahfudh itu Murid Sayyid Abu Bakar Satho' beliau muridnya Sayyid Zaini Dahlan, muridnya Syekh Usman Ad Dimyati terus sampai ke Imam Syafi'i. Kemudian Imam Syafi'i muridnya Imam Malik yang berguru kepada Ibnu Sihab Azzuhri punya guru Imam Nafi' punya guru Abdullah Bin Umar yang bertemu Rasulullah SAW,” tegas Gus Baha.

Menurut Gus baha, seseorang yang alim akan membuat orang-orang mencari tau siapakah bapaknya, siapakah mbahnya. Ketika seorang keturunan tidak alim, orang tidak akan lagi tertarik mencari tau tentang leluhurnya karena dianggap “selesai”.

Keturunan seorang ulama juga adalah orang yang melestarikan sanad keilmuan.

Sanad keilmuan ini harus terus-menerus diulang-ulang sebab jika tidak, kita akan berpikir sendiri untuk menafsirkan sesuatu. Konteks yang ada pada zaman dulu berbeda dengan yang ada pada zaman sekarang.

Suatu tindakan tidak dapat ditafsirkan secara tunggal, harus dengan melihat konteks pada masa itu.

"jadi sangat penting tradisi hujjah dan sanad keilmuan itu. Saya tidak bosan-bosannya belajar (kitab) Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” tegasnya.

Kitab Hujjah merupakan salah satu kitab karangan dari KH. Ali Maksum yang berisikan argumentasi-argumentasi paham ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Dalam kitab tersebut, Mbah Ali terkadang memuji dan bersepakat dengan Ibnu Taimiyyah. Namun pada bagian lain, Mbah Ali mengkritik Ibnu Taimiyyah, seperti tentang ziarah kubur.

Dalam kitab tersebut, Mbah Ali pun menuliskan perihal Imam Syafi’i yang selalu ke makam Abu Hanifah untuk tawasul. Padahal Imam Syafi’i acap kali mengkritik Abu Hanifah dalam tatanan Fiqih. Namun Imam Syafi’I tau betul bahwa Abu Hanifah adalah orang yang sangat sholeh. Mengenai hal ini, Gus Baha’ berpesan agar santri tidak hanya mengkaji kitab-kitab Fiqih. Kalau hanya mengaji dan mengkaji Fiqih, Abu Hanifah seolah-olah sangat tidak ahli hadits.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved