Berita Lamongan
Jerit Sopir Lyn-Angkot Jalur Tengah dan Pantura Hadapi PPKM, 'Beli Bahan Bakar Susah, Makan Utang'
Jerit sopir lyn Babat - Surabaya terdampak PPKM yang terur diperpanjang. Operasional angkutan tak sebanding dengan hasil pendapatan yang diperoleh.
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Hefty Suud
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Kebijakan PPKM di tengah pandemi virus Corona ( Covid-19 ) yang kembali diperpanjang oleh pemerintah akan menambah panjang dampak di banyak sektor.
Keluhan berat kembali muncul dari mereka para pahlawan roda jalanan, yakni para pengemudi sektor transportasi.
Mereka adalah salah satu masyarakat yang kesulitan dalam mencari nafkah di tengah pandemi Covid-19.
"Lha ini malah diperpang lagi sampai 16 Agustus, " gerutu salah satu sopir Udin, Selasa (10/8/2021).
Udin dan rekannya sesama sopir lyn Babat - Surabaya atau sebaliknya, mengakui pendapatan mereka menurun sangat drastis.
Untuk menyiasati ketidak mampuannya membeli bahan bakar kendaraan karena sepinya penumpang, Udin dan para sopir lyn lainnya memilih mengurangi trayek panjang.
"Akhirnya kita coba ambil penumpang Babat - Lamongan, Lamongan-Babat," katanya.
Baca juga: PPKM Resmi Diperpanjang, Polres Gresik Terus Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak
Cara itu diambil ternyata juga tidak meningkatkan pendapatnya. Semua itu, kata Udin, karena pengaruh sepinya penumpang sebagai imbas PPKM.
Diungkapkan, penerapan PPKM Level 4 diperpanjang, dari tanggal 3 Agustus sampai 9 Agustus, kemudian diperpanjang lagi hingga 16 Agustus, akan menambah keterpurukan para awak Lyn, termasuk di Lamongan.
Itu juta dirasakan ratusan sopir jasa angkutan penumpang di Pantura Paciran - Blimbing dan Brondong.
Untuk modal beli bahan bakar pun mereka tak sanggup, pasalnya biaya yang dikeluarkan untuk operasional angkutan tak sebanding dengan hasil pendapatan yang diperoleh.
Salah satu sopir angkot yang ada di kawasan Paciran, Lik Gunawan (43) mengungkapkan, bahwa selama diberlakukannya PPKM saat pandemi ini, dalam beberapa bulan terakhir ia sangat jarang mengoperasikan angkotnya di jalur Paciran - Tuban.
Menurutnya, hasil yang didapatkan tidak cukup untuk menutup biaya kebutuhan setiap harinya.
"Untuk beli bahan bakar tiap hari saja kita kesusahan," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/ppkm-sopir-lyn-babat-surabaya.jpg)