Breaking News:

Berita Malang

TNBTS Sanggah Kritikan Terhadap Rencana Pembangunan Jembatan Kaca, Masuk Zona Pemanfaatan

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menegaskan pembangunan jembatan kaca telah mematuhi kaedah-kaedah yang berlaku.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ndaru Wijayanto
Walhi Jatim
Potret lahan di kawasan Jemplang Dusun Jarak Ijo, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang yang akan dibangun jembatan kaca. Foto diambil pada September 2021. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menegaskan pembangunan jembatan kaca telah mematuhi kaedah-kaedah yang berlaku.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Syarif Hidayat.

"Terkait dengan pembangunan sarpras itu (jembatan kaca) prinsipnya kami mengacu pada zona-zona pengelolaan. Lokasi rencana pembangunan jembatan kaca yang anda tanyakan masuk pada zona pemanfaatan TNBTS," ujar Syarif Hidayat ketika dikonfirmasi.

"Sepanjang itu berlokasi di zona pemanfaatan, terkait dengan pengembangan wisata secara regulasi diperkenankan. Iya sudah dikaji secara lingkungan," sambungnya.

Balai Besar TNBTS juga menyatakan jika pembangunan jembatan kaca tidak melanggar aturan konservasi. Penghormatan kepada kebudayaan masyarakat Suku Tengger juga dijunjung tinggi.

Baca juga: Enam Pot Tanaman di Jalan Besar Ijen Malang Dirusak ODGJ

Sebagai informasi, jembatan kaca rencananya dibangun di kawasan Jemplang. Kawasan tersebut merupakan jalur menuju padang savana dan kawah Bromo. Sebuah Punden sakral juga terdapat dalam kawasan tersebut.

Kawasan TNBTS memiliki beberapa pembagian lahan. Lahan seluas 50.276 hektare dibagi tujuh zona.

Yakni meliputi zona inti seluas 17.028 hektare, zona rimba 26.806 hektare, zona pemanfaatan dijatah 1.193 hektare, zona rehabilitasi sebanyak 2.139 hektare,

Baca juga: Pro dan Kontra Rencana Pembangunan Jembatan Kaca di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Selain itu ada zona tradisional selebar 3.041 hektare, zona khusus seluas 61,56 hektare, dan zona religi seluas 5,18 hektare.

Adanya klasterisasi lahan itu membuat pengembangan yang dilakukan merupakan hal legal dan tidak akan mengganggu wilayah konservasi.

Alhasil,  pembangunan wisata alam di kawasan Jemplang tak akan mengganggu konservasi karena berada di zona pemanfaatan.

"Komitmen kami menjaga ekologi dan lingkungan, mengajak masyarakat lokal dan ekonomi mereka. Kami ada komitmen-komitmen juga ke arah itu," sebutnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved