Breaking News:

Berita Kota Batu

Perum Jasa Tirta I: Kawasan Glagah Wangi Kota Batu Menyimpan Potensi Bencana Banjir Bandang

Perum Jasa Tirta I selesai memetakan kawasan hulu. Raymond Valiant mengatakan, kawasan Glagah Wangi Kota Batu menyimpan potensi banjir bandang.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Direktur Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan, masih ada alur pematus lain yang berpotensi terjadi banjir bandang di Kota Batu, Kamis (11/11/2021). 

"Kami akan secara bijak menyampaikan hasil ini ke balai besar dan Pemprov Jatim, karena ini isu yang harus kami kerjakan bersama," ungkapnya.

Ada tiga area yang dipotret oleh PJT I, yakni Pusung Lading, Alas Bengking dan Sumbergondo. Dari pengamatan itu, disimpulkan bahwa hutan di Pusung Lading  tidak lagi rapat. Kemungkinan air cepat mengalir karena kurangnya tutupan di lahan ini. 

Baca juga: Presiden Joko Widodo Salurkan Bantuan 500 Paket Sembako untuk Korban Banjir Bandang di Kota Batu

"Di Alas Bengking, kami melihat adanya pemanfaatan lahan di tepi kanan kiri dari alur pematus alami, sehingga kesimpulan kami, bahwa pergerakan dari tanah, kayu dan serasah, adalah kombinasi dari beberapa penyebab. Pertama adalah hujan, tetapi yang lebih berperan adalah perubahan tata lahan. Juga kuat dugaan, sedimen yang telah terendap di dalam jalur pematus alami, hasil erosi dan sedimentasi yang lama, itu ikut terangkut turun ke bawah," paparnya.

Soal adanya isu bahwa kawasan longsor merupakan bekas kebakaran hutan, Raymond menjelaskan perlu ada pemetaan dan identifikasi. Pasalnya, lokasi longsor saat ini berbeda dengan titik kebakaran pada 2019 lalu.

"Kalau pemahaman kami, perlu dipetakan lokasi kebakaran hutan tahun 2019 dengan sumber dari limpasan permukaan hari ini yang sudah kami identifikasi. Berdasarkan pengamatan kami, yang terjadi di bagian hulu dari bencana ini sebenarnya adalah perubahan tata ruang, juga terjadi longsoran pada tebing perbukitan. Tetapi longsoran ini belum tentu memberikan kontribusi yang signifikan pada kejadian banjir bandang kemarin. Sehingga kami melihatnya ini kombinasi dari beberapa sebab," tegasnya.

Dari data yang pernah diolah PJT I sekitar empat tahun lalu, pada kemarau, luas tutupan hutan di kawasan hulu Kota Batu berkisar 19 persen hingga 25 persen. Idealnya lebih dari 30 persen. PJT I belum memiliki peta delineasi untuk kepemilikan lahan, PJT I hanya menghitung luas daerah tangkapan Brantas, mulai hulu sampai ke titik di perbatasan Kota Malang.

"Kalau menghadapi kebencanaan, kata kuncinya kewaspadaan," ungkapnya.

Perusahaan Umum Kehutanan Negara Indonesia (Perhutani) melalui Administratur Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Malang, Candra Musi mengatakan, tidak ada peralihan fungsi, melainkan penggarapan lahan.

"Jadi begini di dalam peraturan UU, yang dimaksud dengan alih fungsi lahan itu adalah perubahan fungsi hutan dari satu fungsi ke fungsi yang lainnya," ujarnya.

Dipaparkannya, dalam pengelolaan hutan ada tiga fungsi, pertama konservasi, untuk melindungi satwa dan tumbuhan. Kedua fungsi lindung, untuk melindungi meteorologi, kesuburan tanah dan iklim. Ketiga fungsi produksi, yang memang diperuntukkan untuk diambil produksinya. Hutan produksi ada dua yakni hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved