Breaking News:

Berita Kota Batu

Perum Jasa Tirta I: Kawasan Glagah Wangi Kota Batu Menyimpan Potensi Bencana Banjir Bandang

Perum Jasa Tirta I selesai memetakan kawasan hulu. Raymond Valiant mengatakan, kawasan Glagah Wangi Kota Batu menyimpan potensi banjir bandang.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Direktur Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan, masih ada alur pematus lain yang berpotensi terjadi banjir bandang di Kota Batu, Kamis (11/11/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Kawasan lain di hulu Kota Batu berpotensi menjadi ancaman serius bencana alam, seperti banjir bandang yang terjadi pada 4 November 2021 lalu.

Pasalnya, banyak lahan yang beralih fungsi di kawasan hulu. 

Gerakan reboisasi dalam skala besar harus segera dilakukan sedini mungkin. Di samping itu, alih fungsi lahan yang terlanjur terjadi harus dikembalikan ke fungsi awal sebagai hutan dengan ragam vegetasi.

Perusahaan Umum Jasa Tirta I, baru saja selesai memetakan kawasan hulu melalui drone dalam lima hari belakangan ini.

Direktur Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan mengatakan, masih ada alur pematus lain yang berpotensi terjadi banjir bandang

"Kami mengamati terjadi perubahan tata ruang lahan dan juga terdapat penumpukan sedimen di paras pematusnya. Sehingga kalau ini dikombinasikan dengan hujan yang cukup tinggi, kemudian terjadi aliran permukaan yang membawa serasah, kayu dan sebagainya, tidak menutup kemungkinan, bencana banjir bandang ini dapat terulang tapi pada alur pematus yang lain. Contohnya di kawasan Glagah Wangi," katanya, Kamis (11/11/2021).

Menurut Raymond, aliran yang berasal dari hulu itu pada akhirnya akan masuk ke kawasan Kali Brantas. Untuk menghindari potensi bencana itu, harus ada program jangka panjang untuk memulihkan fungsi lahan.

"Kalau melakukan kegiatan dalam waktu dekat, untuk mengatasi bencana relatif sulit. Aritnya kalau sekarang mau melakukan penanaman di daerah tangkapan air juga belum tahu apakah akan bertahan. Jadi mungkin perlu diprogramkan dalam jangka waktu tertentu. Bahwa secara bertahap, perubahan tata guna lahan ini dapat dikurangi. Kemudian fungsi lahan yang berubah dapat dikembalikan secara bertahap. Artinya ini memerlukan upaya yang tidak dapat dilakukan dalam sehari atau setahun saja," ujarnya.

Dari hasil pemetaan drone itu, PJT I menyimpulkan ada perubahan tata guna lahan yang juga kombinasi longsor. Menurut Raymond, longsor tidak menjadi satu-satunya sumber bencana, karena di dalam alur pematus alami terdapat banyak sedimen, batu, kayu dan serasah yang tertimbun, kemudian terangkut bersama-sama pada bagian sungai yang menyempit.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved