Berita Jember
Kisah Petani Tembakau Jember Ikut Program Kemitraan, Punya Lahan 2 Hektar dan Biayai Anak Kuliah
Program kemitraan disebutkan sebagai salah satu solusi terbaik untuk memajukan kembali komoditas yang dijuluki ‘emas hijau’ tersebut.
Melalui program Sistem Produksi Terpadu, petani binaan mendapatkan kepastian serapan hasil panen berdasarkan jumlah dan ketentuan yang disepakati bersama, akses ke sarana dan prasarana, serta dukungan teknis.
“Di situ enaknya menjadi mitra. Ada kepastian. Harganya juga sudah ditetapkan sama gudang,” ujar Mursidi.
Sejak bermitra, Mursidi mulai berkenalan dengan teknologi pertanian yang efektif, efisien, dan ekonomis. Dukungan teknis dijalankan dalam bentuk pendampingan terus-menerus dan transfer ilmu sepanjang proses bertani yang mencakup sebelum tembakau ditanam, sepanjang masa tanam, pemrosesan pasca panen, hingga pembelian atau serapan hasil panennya.
Melalui pembinaan tersebut, petani tembakau dapat meningkatkan produktivitas sehingga taraf hidupnya meningkat.
Lewat pelatihan yang ditujukan untuk mengembangkan kapabilitas para petani, Mursidi mengetahui bahwa biaya pengelolaan lahan dapat ditekan jauh dengan produktivitas hasil pertanian yang tetap stabil, bahkan meningkat.
“Secara teknologi juga didampingi. Cara membuat bedeng yang bagus, cara mengelola tanaman yang direkomendasikan sama gudang. Cara penjualan juga didampingi. Cara pengeringan juga didampingi sama petugasnya. Enaknya di situ,” tutur Mursidi.
Selain peningkatan produktivitas pertanian, edukasi dalam program kemitraan juga mencakup upaya perlindungan kesehatan dan keselamatan petani. Sampoerna memastikan semua petani memiliki akses terhadap Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengurangi risiko seperti paparan penyakit hijau (green tobacco sickness) akibat kontak langsung dengan tembakau basah, atau dari zat pelindung tanaman ketika penanganan. Pada 2020, 100% petani binaan telah mendapatkan APD.
Berkat jaminan kepastian serapan tembakau dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas yang didapat melalui program kemitraan, kesejahteraan Mursidi dan keluarga meningkat signifikan. Ia telah berhasil mengembangkan lahannya dari 500 meter persegi menjadi 2 hektar.
Dari hasil bertani tembakau, ia juga dapat membangun rumah sendiri, membiayai kuliah anaknya, dan menabung. Mursidi kini juga mempekerjakan 12 orang tenaga kerja yang merupakan tetangga-tetangganya.
Menjadi petani tembakau, terlebih setelah bergabung dalam program kemitraan, telah mengubah tingkat kesejahteraan tak hanya Mursidi namun juga berdampak bagi para warga sekitarnya.
Sebelum menjadi petani, Mursidi bekerja sebagai pengemudi angkutan umum di Jember. Pada saat itu ia sudah memiliki lahan seluas 500 meter persegi, namun pengelolaannya diserahkan kepada orang lain dengan harapan dapat memperoleh dua sumber pemasukan sekaligus.
Akan tetapi, lambat laun ia alih profesi menjadi petani tembakau sepenuhnya karena telah merasakan manfaat positif sebagai petani tembakau. “Terasa hasilnya. Hasilnya kan lumayan dibanding kita menanam padi, palawija. Itu per hektarnya kalau padi 20 jutaan. Kalau tembakau bisa 40-60 jutaan. Lumayan. Bedanya memang jauh,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/petani-tembakau-di-jember-saat-memanen-tembakau-di-lahan.jpg)