Berita Jatim

Cerita Peserta Prolanis: Dari Alami Insomnia Sampai Sakit Komplikasi Terbantu JKN-KIS

Cerita peserta Prolanis asal Kediri, Jawa Timur: Dari alami insomnia sampai sakit komplikasi jadi terbantu berkat JKN-KIS.

Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Menderita insomnia sejak tahun 2009, Nur Chayati (43) terbantu dengan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), Jumat (22/7/2022). 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Menderita insomnia sejak tahun 2009, Nur Chayati (43) terbantu dengan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) hingga kini.

Tidak hanya insomnia, mulanya Nur didiagnosis memiliki batu empedu, namun setelah mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata warga asli Kota Kediri, Jawa Timur, ini juga menderita asam lambung.

“Sakitnya dari tahun 2009. Waktu itu sakit asam lambung dinyatakan penyakit batu empedu. Setelah saya daftar BPJS Kesehatan pada tahun 2014, ternyata benar saya asam lambung, bukan batu empedu. Asam lambung itu bersamaan dengan insomnia. Kalau asam lambung naik pasti tidak bisa tidur,” ungkapnya, Jumat (22/7/2022).

Sebelum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, Nur mengaku mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk kontrol rutin dan obat. Setiap 2 minggu sekali selama 8 bulan, Nur harus mengeluarkan biaya untuk insomnia kurang lebih sekitar Rp 800 ribu.

“Saya awalnya bayar sendiri, kontrol sebagai pasien umum setiap bulan bayar terus, kan belum ada BPJS, itu dari 2009. Setelah 8 bulan kan uang saya sudah habis, saya pindah rumah sakit yang lebih murah. Kan mahal obatnya insomnia itu. Terus ada BPJS saya pakai BPJS, sampai sekarang,” ujarnya.

Tidak berhenti sampai di situ, 3 atau 4 tahun terakhir Nur didiagnosis diabetes. Selain harus menjalani kontrol rutin untuk insomnia, Nur juga kontrol rutin untuk cek kadar gula darahnya. Hingga akhirnya Nur ikut sebagai peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terdaftarnya.

“Sekarang cuma kontrol rutin insomnia itu dan konsumsi obat insomnia dan asam lambung, dijadikan 1 obatnya. Tetapi 3 atau 4 tahun terakhir ini gula darah agak tinggi, saya jadi punya diabet, jadi kontrol rutin juga ke klinik, terus diikutkan Prolanis,” ucapnya.

Nur merasa sangat terbantu dengan adanya program pemerintah ini. Menurutnya, iuran yang dibayarkan setiap bulan tidak sebanding dengan pelayanan kesehatan yang rutin didapatkannya. Biaya pelayanan kesehatan yang dijamin JKN-KIS menurutnya lebih banyak.

“Ya tidak sebanding. Kalau dihitung-hitung ya lebih banyak pengeluaran dari JKN. Kan setiap bulan saya harus kontrol insomnia dan cek gula darah, tetapi alhamdulillah insomnia saya sekarang bisa sampai 2 bulan obatnya,” pungkasnya.

Oleh karenanya, Nur mengimbau bagi yang belum terdaftar sebagai peserta JKN agar segera mendaftar. Selain akan membantu meringankan biaya pelayanan kesehatan ketika diri sendiri sakit, ketika sehat sama dengan beramal kepada yang sedang sakit.

“Sakit kan sewaktu-waktu datangnya, jadi dengan kita daftar JKN bisa membantu meringankan biaya (ketika sakit). Selain itu juga bisa membantu orang-orang yang sedang sakit tetapi kekurangan, kan istilahnya gotong royong,” tuturnya.

Dengan adanya program baik ini, Nur mengucapkan terima kasih karena sudah terbantu. Ia juga mengimbau kepada peserta yang lain untuk terus membayar iuran, agar Program JKN-KIS bisa terus berjalan lancar.

“Terima kasih atas adanya Program JKN-KIS, karena sudah membantu saya terutama, dan membantu masyarakat lain yang membutuhkan. Bagi peserta, kalau bisa membayar iuran itu dirutinkan, kalau tidak, pembayaran pelayanan kesehatan nanti tidak bisa berjalan lancar. Saya harap program ini terus jalan,” ucapnya.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved