Tragedi Arema vs Persebaya

Malam Kelabu di Stadion Kanjuruhan: Kengerian di Pintu 13 dan 14 hingga Sakaratul Maut di Depan Mata

Dadang Indarto, seorang ASN Pemkot Batu ini menjadi satu di antara ribuan suporter yang menonton laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM/LUHUR PAMBUDI
Dadang Indarto saat bercerita di acara yang digelar KontraS, di kawasan Lapangan Rampal, Blimbing, Kota Malang, Senin (3/10/2022). DIa bercerita betapa mengerikannya suasana di Kanjuruhan 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dadang Indarto, seorang ASN Pemkot Batu ini menjadi satu di antara ribuan suporter yang menonton 'Derbi Jatim' Arema FC vs Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang berakhir rusuh, hingga menewaskan ratusan orang. 

Menceritakan kembali malam kelabu di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) itu, membuat nafasnya tersengal-sengal. 

Bagaimana tidak, ia terpaksa harus tetap mengatur intonasi dan nada bicaranya di hadapan audiens, setenang mungkin, dalam acara yang digelar KontraS, di kawasan Lapangan Rampal, Blimbing, Kota Malang, Senin (3/10/2022). 

Padahal, benak hatinya berkecamuk usai melihat kengerian sorak sorai pertandingan sepak bola malam itu, ternyata berubah menjadi laiknya adegan film horor. 

Kedua bola matanya, memerah, sepertinya ia berupaya membendung air matanya yang akan tumpah, sekuat tenaga. 

Baca juga: Kengerian di Pintu 13, Titik Suporter Berdesakan Keluar saat Tragedi Kanjuruhan, 131 Orang Meninggal

Baca juga: Tangis Fathir Tak Terbendung di Patung Singa Kanjuruhan, Sesali Tak Bisa Selamatkan Adik Sepupu

Saat itu, ia memulai cerita, bahwa dirinya menonton pertandingan tersebut bersama seseorang temannya, Aremania asal Lampung. 

Sebelum peluit panjang tanda laga tersebut buyar, ia bersama temannya itu, memutuskan segera keluar dari tribun pintu 13 melalui tangga. 

Tapi ia mengurungkan niatnya. Karena, di tangga menurun tersebut, ternyata puluhan orang sudah tampak berjejal mengantri, keluar dari stadion. 

"Pada menit 90 tambahan 3 menit, saya mencoba keluar dari pintu gate 13, di tangga itu, sudah penuh. Sehingga saya memutuskan balik, saya bersama dengan teman saya Aremania Lampung, jauh jauh dari Lampung, dia ke sini hanya untuk menonton Arema. Tapi apa yang terjadi yang ditonton adalah film horor," ujar Dadang sapaannya. 

Sesaat kembali ke atas tribun, dan peluit panjang melengking memungkasi pertandingan tersebut. Dadang melihat dengan kepala mata sendiri, beberapa suporter, satu per satu memanjat hingga melompati pagar pinggir stadion untuk berlari ke tengah lapangan. 

Baca juga: KontraS Blak-Blakan Soal Tragedi Kanjuruhan dan Gas Air Mata: Kapolda Jatim Harus Dicopot

Jika selama ini, aksi para suporter tersebut dinarasikan sebagai bentuk aksi anarkis yang bertujuan menyerang pemain lawan; kesebelasan Persebaya Surabaya dan official timnya, Dadang menegaskan, hal tersebut salah besar. 

Sejauh mata memandang, ia melihat bahwa para suporter yang berlarian masuk ke tengah lapangan lalu menuju ke arah pintu masuk ruang ganti pemain, bukan untuk melakukan penyerangan. 

Melainkan, untuk memberikan pelukan hangat sebagai luapan emosi atas kemenangan dalam pertandingan tersebut, yang belum berpihak pada mereka. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved