Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Santri di Madura Dikeroyok Senior

Isak Tangis Ayah Korban Santri di Bangkalan yang Tewas Dianiaya: Dipondokkan Bukan untuk Dibunuh

Nasib tragis seorang santri remaja pria berinisial BT (16), warga Desa Buluk Agung, Kecamatan Klampis meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM/Ahmad Faisol
Tangis ayah korban dari santri di Bangkalan yang tewas usai menjadi korban pengeroyokan di pondok pesantren, Selasa (7/3/2023) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Ahmad Faisol

TRIBUNJATIM, COM, BANGKALAN - Nasib tragis seorang santri pria berinisial BT (16), warga Desa Buluk Agung, Kecamatan Klampis meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Ayah korban, Moh Nasip (45) bahkan tak kuasa menahan isak tangis ketika mengenang sosok BT di hadapan awak media di rumahnya, Kamis (9/3/2023).

Mengenakan peci berwarna hitam dengan baju koko berwarna putih, Nasip berupaya terlihat tegar.

Namun dua kantung matanya yang tampak membengkak, tak mampu menutupi begitu dalam duka yang ditinggal anak bungsung, BT.

Suara Nasip perlahan mulai terdengar parau, kalimatnya terhenti seketika karena ia tak kuasa menahan isak tangis. Jemari tangan kiri Nasip menutup sekaligus menyeka linangan air mata pilu.

Ia terkenang keseharian sosok BT yang dikenal sebagai anak yang penuh kehati-hatian dalam mengambil tindakan meski sekedar urusan makanan di atas piring dan minuman di dalam kulkas rumahnya.   

Baca juga: Madura Geger, Santri di Bangkalan Kehilangan Nyawa, Ulah Para Senior Jadi Sebab, Modus Licik

Baca juga: Awal Pemicu Santri di Bangkalan Tewas Dikeroyok Belasan Senior, Dituduh Curi Uang, sempat Tak Ngaku 

“(Makanan) ini punya siapa abah?. Punya siapa abah?, tidak langsung dimakan. Begitu juga minuman di dalam kulkas, tidak langsung diminum khawatir punya yang lain,” ungkap Nakip yang memantik suasana hening berselimut pilu.

Pernyataan Nakip itu menyiratkan bahwa BT bukanlah sosok anak seperti yang dituduhkan sebagai pelaku pencurian atas hilangnya uang santri senilai Rp 400 ribu.

Peristiwa hilangnya uang senilai itu disebut pihak kepolisian sebagai pemicu terjadinya pengeroyokan.

Kasus meninggalnya BT saat ini tengah menjadi atensi Satreskrim Polres Bangkalan. pihak pondok pesantren yang berlokasi di Desa Campor, Kecamatan Geger itu melapor beberapa jam setelah peristiwa meninggalnya BT.

Belasan santri dihadirkan untuk dimintai keterangan mulai Rabu (8/3/2023) pagi. Pihak kepolisian menyebutkan, BT meninggal dunia setelah dikeroyok di sebuah kamar santri dengan luka lebam di bagian tangan, dada, dan punggung.

Korban BT merupakan siswa kelas I yang masuk pada tahun ajaran baru atau sekitar delapan bulan silam.

“Anak saya disia-siakan seperti ini, saya gak rela seperti ini. Soalnya saya memondokkan anak itu bukan mau dibunuh, mau dibelajarkan, dididik biar tahu akhlak. Karena saya tidak tahu cara mendidik akhlak, mungkin di pondok bisa tahu akhlak,” jelas Nakip.  

Hasil keterangan dari para santri dalam pemeriksaan, seperti yang disampaikan Kasatreskrim Polres Bangkalan, AKP Bangkit Dananjaya, Rabu (8/3/2023), peristiwa pengeroyokan bermula ketika sejumlah santri senior berupaya mengklarifikasi kepada korban BT atas raibnya uang senilai Rp 400 ribu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved