Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Mahasiswi Unej Tewas di Gunung Argopuro

Alasan Mahadipa FT Unej Tak segera Hubungi Basarnas ketika Korban Kritis Pertama: Bukan Menolak

Alasan Mahadipa Fakultas Teknik Unej tak segera menghubungi Basarnas ketika korban kritis pertama: Bukan menolak.

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Imam Nawawi
Dekan Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) dan Pengurus UKM Pecinta Alam saat jumpa pers terkait tewasnya mahasiswi Unej saat ikuti kegiatan di Lereng Gunung Argopuro Jember, Selasa (14/11/2023). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Tewasnya mahasiswi Universitas Jember (Unej) bernama Nadhifa Naya Damayanti (18) di Lereng Gunung Argopuro wilayah Kecamatan Arjasa, Jember, menjadi perhatian publik.

Pasalnya, mahasiswi asal Balikpapan ini meninggal dunia saat mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Mahasiswa Divisi Pecinta Alam (Mahadipa) Fakultas Teknik (FT) Unej di Petak 64 C Hutan Lindung milik Perhutani.

Ketua Umum Mahadipa Fakultas Teknik Unej, Alung Kiromul Risqi mengatakan, saat Jumat (10/11/2023) siang, korban mengalami kelelahan karena naik gunung.

Sehingga saat itu, panita langsung memberikan pertolongan pertama.

"Untuk pertolongan pertama yang kami berikan, berupa pembuatan bivak atau tempat berlindung. Kemudian kami buatkan api sebagai penghangat. Dan kami berikan sereal Energen dan air gula. Tapi kemudian malam harinya (korban) drop kembali," ujarnya, Selasa (14/11/2023).

Alung mengakui tidak segera menghubungi Basarnas ketika korban kritis pertama.

Sebab pertimbangan panita saat itu, sudah menjelang petang. Sementara medan Lereng Gunung Argopuro sangat ekstrem.

"Kami bukan menolak, kami lebih mengantisipasi. Karena kami menghubungi pihak Basarnas itu sore menjelang Magrib, dan baru ada respons Magrib ke malam. Kemudian posisi dari dropnya peserta benar-benar di atas perbukitan," ungkapnya.

Menurutnya, kalau memaksakan dilakukan evakuasi saat korban kritis pertama, panita khawatir hal itu dapat membuat kondisi mahasiswi ini makin parah.

"Kami (khawatir) nanti adanya kecelakaan yang lebih. Karena medan yang curam dan hanya bisa dilalui satu orang. Jadi ketika kita melakukan evakuasi menggunakan tandu itu tidak bisa berjalan normal," imbuh Alung.

Namun ketika korban mengalami masa kritis yang kedua saat Sabtu (11/11/2023) sekitar pukul 01.30 WIB, Alung mengaku harus menghubungi Basarnas lagi untuk evakuasi.

"Ketika peserta mulai drop kembali. Kemudian juga langsung jalankan evakuasi, dropnya itu sudah bener-benar napasnya mulai menipis. dan denyut nadinya mulai melemah. Jadi kami langsung minta untuk evakuasi dari panitia dan minta bantuan dari SAR OPA," paparnya.

Dia mengatakan, sebelum kegiatan, sebenarnya panitia telah memberi beberapa persyaratan terkait yang harus dipenuhi oleh peserta. Khususnya riwayat penyakit.

"Entah itu penyakit yang diderita atau bawaan yang sedang dialami. Ataupun penyakit yang berpotensi kambuh kembali," ujarnya, 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved