Berita Malang
Pelaku UMKM di Kota Malang Harapkan Bantuan Permodalan untuk Kembangkan Usaha
Rencana Pemkot Malang untuk membantu permodalan pelaku UMKM disambut positif
Penulis: Benni Indo | Editor: Ndaru Wijayanto
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Rencana Pemkot Malang untuk membantu permodalan pelaku UMKM disambut positif. Ida Nur Yanti, pelaku UMKM dengan produk arem-arem bernama Spesial Arem-arem Bu Ida mengatakan membutuhkan bantuan permodalan untuk mengembangkan usahanya.
Sejak ia memulai usaha pada 1998, Ida menggunakan uangnya sendiri untuk berkembang. Hingga 20 tahun lebih, ia tidak pernah mendapatkan bantuan pendanaan dari lembaga apapun.
“Saya lakukan sendiri. Tidak pernah mendapatkan bantuan seperti itu,” katanya.
Bantuan akses keuangan sangat dibutuhkan Ida. Sebagai pelaku UMKM yang memiliki produk makanan, permodalan akan membantu tingkat produktivitasnya.
“Saya memiliki banyak produk selain arem-arem, yaitu ada donat ayam, lalu varian pugasan atau topping,” terangnya.
Sejak dilanda pandemi, saat ini produk yang dihasilkan hanya dibuat saat ada pemesanan. Ida tidak berani ambil risiko terlalu tinggi karena arem-arema atau makanan lain yang ia buat tidak bisa bertahan lama.
“Seharis bisa sampai 300 buah yang terjual. Satu buah harga arem-aremnya Rp 4.500,” katanya.
Arem-arema yang ia buat memiliki citarasa khas Jawa Tengah karena Ida sendiri berasal dari Blora, Provinsi Jawa Tengah. Rasanya cenderung manis, berbeda dari kebanyakan arem-arem yang ada yaitu terasa lebih asin dan pedas. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumennya Ida.
Eva Sophia Hayati, pelaku usaha pakaian di Kota Malang yakni Rumah Daster Eva memiliki pengalaman yang positif mengenai bantuan pendanaan. Sejak memulai usahanya lebih dari 20 tahun lalu, ia tidak melewati jalan yang mulus.
“Berdarah-darah ini semua,” katanya.
Ia pernah mendapatkan pinjaman senilai Rp 6 juta dari bank saat awal-awal memulai usaha. Dari pinjaman modal tersebut, usahanya terus berkembang hingga saat ini.
Dari pakaian yang ia juga seperti daster, pakain anak-anak, penutup tisu dan bahkan mukena yang sebagian besar berasal dari perca, ia bisa memperoleh omset lebih dari Rp 500 juta per bulannya.
“Awal-awal dulu dapat pinjaman Rp 6 juta, tapi tahun itu,” katanya.
Saat ini ada 100 pegawai yang ia karyakan. Tokonya juga berkembang. Sudah ada dua cabang di luar Kota Malang. Satu di Kota Batu, satunya lagi di Jakarta.
JPU Tolak Eksepsi Selebgram Isa Zega Terkait Kasus Pencemaran Nama Baik |
![]() |
---|
Ditinggal Bikin Pentol, Pedagang Bakso di Malang Syok Burung Murai Harga Jutaan Raib Digondol Maling |
![]() |
---|
Amankan Perayaan Imlek di Kelenteng Eng An Kiong, Polresta Malang Kota Terjunkan Puluhan Personel |
![]() |
---|
Nostalgia Nikmati Jajanan Sekolah di Festival Najaj Halokes Kampung Sekabrom Kayutangan Malang |
![]() |
---|
Libur Panjang Isra Miraj dan Imlek 2025, Ribuan Tiket Kereta di Stasiun Malang Ludes Terjual |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.