Berita Viral
Kerja Jaga WC Umum sampai Malam, Mbah Sarti Cuma Dikasih Rp10 Ribu Tiap Hari, Padahal Suaminya Sakit
Meski mendapat upah tak seberapa, Mbah Sarti terpaksa jadi penjaga WC umum untuk rawat suami.
Penulis: Alga | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNJATIM.COM - Kisah nenek bernama Mbah Sarti yang bekerja menjaga WC umum sampai malam menuai perhatian.
Meski mendapat upah tak seberapa, apapun dilakukan untuk mencari nafkah dan bisa bertahan hidup.
Di usianya yang sudah 74 tahun, hal itu dilakukan Mbah Sarti.
Awalnya, kisah Mbah Sarti ini viral dibagikan akun Instagram @sayaphati, Selasa (25/6/2024).
Dalam video yang diunggah memperlihatkan keseharian Mbah Sarti yang bekerja hanya duduk di depan WC umum.
WC umum yang dia jaga pun tampak kumuh, berdinding bilik dengan toilet jongkok.
Sekilas bangunan WC umum tersebut tampak seperti gudang.
Namun di sana terlihat seorang nenek renta yang sabar menunggu orang-orang yang datang ke bilik yang dia jaga.
Di dinding bilik tersebut terdapat tulisan menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah WC umum.
Di situlah Mbah Sarti duduk menjaga WC umum tersebut.
Tak hanya itu, ternyata Mbah Sarti hanya diam karena ia tak bisa mendengar.
Mbah Sarti hanya bisa mengarahkan pengujung WC umum tersebut agar langsung membayar dengan tarif yang tertera di karton warna merah jambu.
"Mohon uangnya langsung diletakkan di kardus karena saya tidak bisa mendengar," tulisannya.
Selain itu juga tertulis tarif WC umum di karton merah muda, untuk kencing seharga Rp2000 dan buang air besar (BAB) Rp4000.
Baca juga: Rela Dorong Gerobak 8 Km, Mbah Omon Maman Berjuang Hidup Cari Rongsokan, Demi Dapat Rp100 Ribu
Dikutip dari Tribun Jabar, Mbah Sarti terpaksa bekerja sebagai penjaga WC umum karena suaminya terbaring sakit.
Dalam video tersebut, Mbah Sarti menceritakan kehidupanya sehari-hari tersebut.
Nenek berusia 74 tahun ini mengaku bekerja menjadi penjaga WC umum.
Dari pekerjaannya tersebut, Mbah Sarti mengaku hanya diupah Rp10 ribu per hari.
Ia menceritakan bahwa dirinya terpaksa bekerja mencari nafkah karena suami jatuh sakit.
Dalam video tersebut, Mbah Sarti berbicara di samping suaminya yang terbaring sakit di kasur.
Terlihat Mbah Sarti merawat dan menyuapi suaminya itu dengan makanan seadanya.
Diketahui suami Mbah Sarti adalah kakek Asmono yang berusia 75 tahun.
Suaminya tersebut sakit setelah jatuh dari sepeda.
Kini Mbah Sarti yang mencari nafkah dan menjadi tumpuan hidup mereka dengan upah Rp10 ribu per hari.

Sontak kisah pilu Mbah Sarti ini membuat netizen merasa iba dan simpati kepadanya.
Akun @sayaphati pun membuka donasi untuk membantu perekonomian Mbah Sarti dan suaminya, Kakek Asmono.
Namun donasi tersebut sudah ditutup pada 28 Juni 2024.
Meski begitu, kisah pilu Mbah Sarti ini terus menyedot perhatian netizen hingga banjir doa dan dukungan.
Kini kisah pilunya tersebut menyita perhatian netizen yang simpati dengan nasibnya.
Tak sedikit netizen yang prihatin karena penghasilan Mbah Sarti Rp10 ribu per hari tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari berdua dengan suaminya.
Berikut beragam komentar netizen:
"Ya Allah mudahkan dan lancarkan rejeki nenek sembuhkan kakek, limpahkan perlindungan, keselamatan dan kebahagian dunia akherat kelak, semoga byk yg bantu kakek dan nenek, aamiin ya robbal alamiin"
"Tolong pr koruptor d atas sana sering2 liat kek gn,biar gk hobi mkn duit negara yg shrusnya buat ksejahteraan rkyat!!!!bkn mlh mrka makan buat kesejahteraan hrta hedon bermewah2 Marka"
"Ya Allah 10 ribu buat beli apa zaman skrg,beli nasi juga ga cukup buat berdua"
"Kalau full sebulan hanya dapat 300 ribu guys, itupun kakek sdh sakit skrg"
"Ya Allah selama ini aku kurang bersyukur," tulis komentar netizen.
Hingga artikel ini dimuat, belum diketahui lokasi pasti tempat Mbah Sarti tinggal.
Kisah serupa juga datang dari seorang kakek bertubuh mungil di usianya yang sudah renta, tampak mendorong gerobak rongsoknya saat terik matahari menyengat.
Ia tampak mendorong gerobaknya di ruas Jalan Letnan Kolonel Re Jaelani, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Kamis (27/6/2024).
Tampak sang kakek begitu gigih berjuang menarik gerobak mencari rongsokan untuk menghidupi dirinya.
Lalu lalang kendaraan pada jalan yang kurang lebih selebar 5 meter tersebut menyisakan debu di udara.
Satu-satunya pertahanan sang kakek dari terik matahari adalah sebuah topi kumal yang terlihat sudah habis dimakan waktu.
Sedang pada pakaiannya yang berwarna oranye, tampak lambang Kota Tasikmalaya dengan tulisan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Kebersihan Kota Tasikmalaya tercetak di dada sebelah kiri.
Melansir dari Jaringan Dokumentasi Informasi Hukum (JDIH) Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya, dinas tersebut sudah tidak ada.
Dinas ini masuk ke dalam pembahasan peraturan daerah mulai pada tahun 2008 sampai terakhir tahun 2013 silam.
Sedang semua peraturan tersebut saat ini berstatus 'Tidak Berlaku'.
Kakek bernama Omon Maman tersebut mengaku menjual barang rongsok di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Demi menyambung hidup, setiap hari dirinya menempuh perjalanan sekitar 2,5 kilometer, mulai dari Jalan Pasar Baru I sampai Pasar Cikurubuk.
Terkadang, ia mengambil jalur lain guna mengambil barang rongsok di tempat-tempat yang berbeda, sehingga terkadang ia dapat menempuh total 7-8 kilometer.
Saat ditemui TribunPriangan.com, keterbatasan berkomunikasi sempat menjadi kendala, namun berikut yang berhasil diutarakannya.
"Saya sekarang mah sendirian. Istri saya sudah meninggal lebih dari 2 tahun lalu," ucap Mbah Maman Omon pada Kamis (27/6/2024).
Baca juga: Dapat Uang Rp900 Ribu, Mbah Midin Penjual Arum Manis Nangis Bisa Lunasi Utangnya, Kompor Rusak
Dirinya juga mengaku sempat bekerja sebagai tukang sapu jalan setiap malam hari di Jalan Pasar Baru I, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Dulu (tidak dapat memastikan waktunya) saya kerja nyapu jalan bagian malam di Jalan Pasar Baru."
"Kalau rumah mah di Singaparna (Kabupaten Tasikmalaya)," tuturnya kepada TribunPriangan.com.
Akan tetapi, Mbah Maman Omon mengaku tinggal sendirian di salah satu toko di Jalan Pasar Baru I, Kota Tasikmalaya.
"Saya dikasih tempat sama yang punya tokonya buat tidur di sana."
"Saya tidak pernah pulang ke Singaparna, soalnya istri juga sudah tidak ada," ujarnya.
Dari mendiang sang istri, Maman mengaku memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
"Keduanya sudah menikah. Yang satu tinggal di Ciamis, yang satu di rumah (di Singaparna) jauh," katanya.

Kesehariannya, Mbah Maman Omon berkeliling mengambil barang rongsok di toko-toko yang ada di wilayah Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Pada saat istrinya masih ada, usai bekerja seharian, Mbah Maman Omon kerap pulang ke Singaparna di Kabupaten Tasikmalaya.
"Waktu masih ada istri mah, saya ya pulang ke rumah, capek-capek juga maksain pulang baru besoknya ke kota lagi."
"Sekarang mah udah enggak ada istri, jadi ya enggak pulang," lengkap dia.
Dari berjualan rongsok tersebut, Mbah Maman Omon mengaku penghasilannya tidak menentu.
"Ya tidak menentu, tapi bisa dapat sampai Rp100 ribu," pungkas Mbah Maman Omon.
Mantan Pimpinan KPK Duga Noel Ebenezer Dilaporkan Orang Dekat: Ruangan Kawan Disadap |
![]() |
---|
Modus Pinjam Sebentar Bikin Motor Wanita ini Raib di Tangan Kenalannya, Sempat Memaksa |
![]() |
---|
Kasihan usai Dimintai Tolong Sambil Memelas, Pria ini Malah Jadi Korban Begal |
![]() |
---|
Gaya Hidup Perkotaan Bikin Warga Jombang Banyak yang Menjadi Janda, Pengadilan Agama: Kompleks |
![]() |
---|
Imbas Ingin Sadarkan Abdul Rahim dari Mabuk Berat, Dua Pria ini Jadi Tersangka, Sempat Sandiwara |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.