Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Viral

Siswa SMP Diminta Iuran Rp700 Ribu untuk Laptop Kenang-kenangan, Kepsek Sebut Sumbangan Sukarela

Keluhan terkait pembayaran iuran kenang-kenangan berupa laptop menjadi sorotan netizen.

Penulis: Alga | Editor: Mujib Anwar
Instagram/brorondm
DUGAAN PUNGLI SEKOLAH - Tangkapan layar unggahan dugaan pungli di SMPN 1 Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, oleh akun Instagram @brorondm. 

Komite sekolah menegaskan, terkait sumbangan diberikan kebebasan, boleh di atas atau di bawah angka yang disebutkan, bahkan dibebaskan bagi yang tidak mampu.

"Komite berencana besok Rabu akan ada pleno lagi membahas dan menegaskan ini adalah sifatnya sumbangan," tegasnya.

Menurutnya, bantuan dari pemerintah pusat yang diterima sekolah hanya berasal dari dana BOS.

"Kalau di tempat kami hanya dana BOS saja, tujuannya operasional. Lalu kenapa tidak digunakan untuk membeli komputer?"

"Penggunaan dana BOS ada ketentuan dan penggunaannya, jadi penggunaannya sudah diatur betul," paparnya. 

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen melarang segala bentuk pungutan di sekolah.

"Sudah melarang dan mengeluarkan surat, dilarang ada pungutan," kata Jabatan Fungsional Tertentu (JFT), Widya Prada, sekaligus Plt Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Purnomo Hesti.

Purnomo menyampaikan, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Pihaknya telah melakukan konfirmasi ke sekolah.

"Jadi itu, bahasanya orang yang membulatkan. Pada dasarnya kita sudah menyampaikan, nominalnya bervariasi dan berbeda-beda, jadi bukan pungutan."

"Itu yang menyampaikan dari komite, sekolah ada suatu kebutuhan-kebutuhan."

"Komite menyampaikan dari orang tuanya bahasa yang keluar kelas 7 sekian, kelas 9 sekian. Pada dasarnya tidak sama," terangnya.

Nominal sumbangan menyesuaikan dengan kemampuan orang tua siswa.

Baca juga: Buah Pisang Sisa Menu MBG Diolah Siswa SMA Jadi Kue Bolu, Aksinya Jadi Sorotan

"Nyatanya ada yang memberi besar, yang tidak punya dari sekolah tidak memaksa memberi."

"Itu hasil konfirmasi saya dengan kepala sekolah seperti itu. Namanya orang ingin viral, ada oknum yang ingin memelintir bahasa tersebut," ucap Purnomo.  

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved