Menjaga Geliat Batik Banyuwangi, Membuka Jalan UMKM Naik secara Ekonomi

Ada kain batik motif sosian berusia 55 tahun milik Asmawati. Ada batik bermotif Samir berusia 69 tahun milik Hairiyah

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Samsul Arifin
TribunJatim.com/Aflahul Abidin
BATIK - Umi Sukesih (56) difoto di Galeri Batik Seblang miliknya, Senin (20/10/2025). 

Batik Banyuwangi bergeliat sejak lebih dari satu dekade terakhir. Inovasi dan kemudahan akses permodalan menjadi kunci.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - RUANG galeri Batik Seblang itu berukuran sekitar 8 meter x 8 meter. Terletak di sisi belakang rumah di Jalan KH Agus Salim Gang Masjid Mujahidin, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Banyuwangi.

Sekeliling dindingnya tertutup lembaran kain batik khas Banyuwangi. Ada motif gajah oling, kopi pecah, jenon, wader kesit, paras gempal, dan lainnya. Jumlahnya hampir seratus lembar dengan 30-an jenis motif.

Dari jumlah yang tak sedikit itu, ada tiga lembar batik tulis kuno yang menarik. Kain itu terlempit di atas meja kecil sisi kiri dari pintu masuk.

Ada kain batik motif sosian berusia 55 tahun milik Asmawati. Ada batik bermotif Samir berusia 69 tahun milik Hairiyah. Terakhir, batik yang terlihat paling lusuh karena berusia 112 tahun, bermotif Sisik milik Sayu Dawini.

Asmawati, Hairiyah, dan Sayu Dawini memiliki hubungan keluarga. Semuanya sudah almarhumah. Batik-batik itu disimpan dan dirawat oleh pemilik Galeri Batik Seblang, Umi Sukesih (56).

Baca juga: Fashion Lorong Bambu Tampilkan Pelajar Banyuwangi Kenakan Busana Batik Sporti Motif Wader Kesit

Asmawati merupakan ibu kandung Umi. Ia juga yang menurunkan "darah batik" kepada Umi. Hariyah adalah adik dari nenek Umi. Sementara Sayu Dawani merupakan adik dari buyut Umi.

"Batik-batik ini saya simpan untuk kenang-kenangan dan peninggalan keluarga. Ini bersejarah bagi saya," kata Umi, Senin (20/10/2025).

Waktu kecil, Umi tinggal di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi. Hanya beberapa ratus meter dari Pendopo Sabha Swagita Blambangan.

Daerah ini dulu dikenal sebagai pusatnya industri batik Banyuwangi. Buyut hingga ibu Umi hidup dari membatik di sana.
Umi tumbuh di sana hingga remaja. Ia baru meninggalkan daerah tersebut setelah pindah rumah bersama suaminya, Sukartono (68), ke kediamannya sekarang yang menjadi satu dengan galeri batik.

"Tahun 1992, saya membuat usaha batik sendiri bernama Batik Seblang," cerita Umi.

Sebagai penerus batik kuno, Umi ingin mempertahankan pakem-pakem dalam karyanya. Ia berfokus pada batik tulis dengan motif-motif yang ia pelajari dari sang ibu. Ada sebanyak 56 jenis motif lawas yang Umi pelajari. Nama-nama motifnya tertulis rapi di kertas besar seukuran kalender di ruang galeri.

Umi bercerita, usaha batik di Banyuwangi sempat stagnan pada tahun 1990-an hingga sekitar 2013. Usaha tetap jalan. Tapi pasar batik tak berkembang.

Baru sekitar tahun 2013, batik Banyuwangi mulai merangkak naik daun. Momentumnya saat Pemkab Banyuwangi pertama kali menggelar Banyuwangi Batik Festival (BBF). BBF merupakan bagian dari Banyuwangi Festival (B-Fest), sebuah rangkaian event tahunan yang berhasil mengubah wajah Banyuwangi dari Kota Mistis menjadi Kota Wisata Fantastis.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved