Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi, Simbol Kebersamaan Warga Dusun Rejopuro
Warga Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi menggelar tradisi Ithuk-Ithukan, Rabu (29/4/2026).
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Samsul Arifin
Ringkasan Berita:
- Tradisi Ithuk-Ithukan digelar sebagai wujud syukur atas sumber air Kajar.
- Warga makan bersama dengan menu khas suku Osing secara sederhana.
- Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan melibatkan semua generasi.
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aflahul Abidin
TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Tradisi Ithuk-Ithukan kembali digelar warga Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (29/4/2026).
Tradisi turun temurun tersebut digelar untuk merekatkan semangat kebersamaan dan kesederhanaan masyarakat desa.
Tradisi Ithuk-Ithukan dimulai dengan mengarak makanan keliling desa menuju sumber mata air Kajar.
Di sumber mata air, warga menggelar tikar dan makan bersama. Kesederhaaan tercermin dari menu dan cara makan warga.
Menu yang dibawa antara lain makanan khas suku Osing pecel pitik, sayur pakis, dan botok manisa. Warga menggunakan daun pisang sebagai wadah makan.
Baca juga: Dari Dam Karangdoro, Tradisi Bubak Bumi di Banyuwangi Jadi Simbol Kebersamaan Petani
Kenakan Busana Adat Osing
Dengan gayeng, mereka melahap menu yang dibawa masing-masing secara bersama-sama.
Selama tradisi tersebut, warga mengenakan pakaian adat suku Osing. Para perempuan memakai baju hitam dan bawahan kain batik.
Sementara para pria memakai busana atas-bawah berwarna hitam. Lengkap dengan udeng yang dipakai di kepala.
Sejak pagi, warga telah bersolek dan menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut hajatan tahunan yang digelar setiap 12 Zulkaidah dalam kalender Islam.
Tetua Dusun Rejopuro, Sarino, mengatakan, Ithuk-Ithukan berasal dari tradisi para leluhur yang telah digelar puluhan atau bahkan ratusan tahun silam.
"Para leluhur berpesan agar tradisi dibuat sesederhana mungkin, yang terpenting tidak ada masyarakat yang kelaparan dan semua bisa makan bersama," kata keturunan kelima dari tetua dusun setempat itu.
Sarino menyebut, tradisi Ithuk-Ithukan dilestarikan untuk meneruskan perjuangan para leluhur dan menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Karena itu pula, para anak-anak turut ikut serta dalam tradisi itu.
Baca juga: Imbas Kecelakaan di Bekasi, KA Pandalungan dan Blambangan Masuk Jember-Banyuwangi Terlambat 9 Jam
Wujud Syukur atas Sumber Air
Kepala Desa Kampung Anyar, Suwandi, menambahkan, tradisi Ithuk-Ithukan berakar dari ungkapan rasa syukur warga atas keberadaan sumber mata air Kajar.
Sumber air tersebut tak pernah mati dan mengaliri ratusan hekatare lahan pertanian di wilayah Glagah dan sekitarnya.
Dusun Rejopuro
Kecamatan Glagah
berita Banyuwangi terkini
TribunHis
Tradisi Ithuk-ithukan
Ithuk-ithukan
TribunJatim.com
Tribun Jatim
jatim.tribunnews.com
Osing
| Kisah Hasby, Siswa MAN 1 Blitar Jadi Jemaah Haji Termuda 2026: Gantikan Sang Ayah yang Wafat |
|
|---|
| Pencurian Sapi di Tuban Marak Jelang Idul Adha, Sudah 8 Sapi Digondol Pencuri dalam Sepekan |
|
|---|
| Profil Timnas Tanjung Verde yang Siap Mengejutkan di Piala Dunia 2026, Ryan Mendes Jadi Andalan |
|
|---|
| Impresi Berkendara Yamaha Gear Ultima Hybrid 125: Tangguh Taklukkan Rute Surabaya–Bromo |
|
|---|
| Sebelum Meninggal karena Tabrakan Kereta, Harum Ungkap Kangen Ibu dan Ingin Teman Kumpul di Rumah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/tradisi-Ithuk-Ithukan-banyuwangi.jpg)