Dilema Produsen Rengginang di Blitar, Pesanan Malonjak Jelang Lebaran Tapi Cuaca Kurang Mendukung

Rengginang menjadi salah satu jajanan yang diburu masyarakat saat momen Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. 

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Samsul Hadi
PRODUSEN RENGGINANG : Wiwik sedang mengecek rengginang yang dijemur di halaman depan rumahnya, Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Rabu (4/3/2026). 

"Saya sekali produksi bisa lebih satu kuintal rengginang. Tapi, produksinya tergantung cuaca. Kalau cuaca bagus, bisa produksi tiap hari," ujarnya. 

Dikatakannya, bahan baku utama untuk membuat rengginang, yaitu, beras ketan.

Proses produksi dimulai ketan direndam satu jam, lalu ditiriskan dan dicuci sampai bersih. 

Setelah dicuci, ketan dikukus selama 1,5 jam. Selanjutnya, ketan yang sudah dikukus diangkat ditaruh dalam wadah untuk diberi bumbu. 

Baca juga: Kebanjiran Pesanan, Produsen Rengginang di Kota Blitar Ini Sudah Close Order

Setelah diberi bumbu, ketan kembali dikukus. Kemudian ketan diangkat lagi untuk dicetak. 

"Proses cetak pas kondisi ketan masih hangat. Kalau tidak hangat, kondisinya keras, tidak bisa dicetak," katanya. 

Wiwik membuat beberapa varian rasa rengginang, yaitu, rasa bawang, terasi, dan ketan hitam.

Di momen menjelang Lebaran ini, Wiwik rata-rata bisa memproduksi sekitar 120 kilogram rengginang sehari atau sekitar 2 ton rengginang dalam sebulan.

Ia menjual rengginang dengan harga Rp 35.000 sampai Rp 40.000 per kilogram. 

"Sekarang, pemasarannya hanya di lokal Blitar. Kalau dulu, pernah kirim sampai Papua," ujarnya. 

Baca juga: Jelang Lebaran, Kampung-kampung di Trenggalek Kompak Berhias Warna-warni

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved