Breaking News

Ramadan 2026

Apa Itu Ngabuburit? Ini Asal-Usul dan Makna di Baliknya

Dari Bahasa Sunda yang artinya santai sambil menunggu sore, ngabuburit kini jadi momen seru jelang berbuka puasa.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Isya Anshori
BAZAR NGABUBURIT - Suasana Bazar Ngabuburit di area lapangan belakang Pemkab Kediri, Rabu (19/3/2025). Asal-usul dan makna di balik kata ngabuburit dalam budaya puasa Ramadan Indonesia menarik untuk dipahami. 

Pada masa itu, masyarakat Sunda mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas ringan seperti berjalan-jalan sore atau bermain permainan tradisional. 

Tujuannya untuk mengalihkan rasa lapar dan dahaga selama berpuasa.

Seiring waktu, aktivitas ngabuburit semakin beragam. Selain jalan-jalan, masyarakat juga memanfaatkan waktu sore untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti pengajian di masjid dan mushola.

Dalam Kamus Bahasa Sunda Danadibrata tahun 2006, ngabuburit juga diartikan sebagai kegiatan menghabiskan waktu menjelang magrib sambil berjalan-jalan.

Baca juga: Tradisi Ngabuburit Kumbohan di Lamongan, Uniknya Berburu Ikan Munggut saat Ramadan

Dari Istilah Lokal Menjadi Tradisi Nasional

Awalnya, penggunaan istilah ngabuburit terbatas di wilayah Jawa Barat dan kalangan masyarakat Sunda. Namun, lambat laun kata ini menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Istilah ngabuburit bahkan sudah tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Artinya, kata tersebut telah diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.

Popularitasnya semakin meningkat ketika digunakan dalam berbagai program televisi dan acara hiburan Ramadan

Pada 2012, TransTV menayangkan program bertajuk Ngabuburit, disusul program serupa pada 2018 dengan judul Ngabuburit Happy.

Ngabuburit di Berbagai Daerah dan Tanah Melayu

Meski berasal dari bahasa Sunda, praktik ngabuburit kini menjadi bagian dari budaya Ramadan di seluruh Indonesia. 

Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam mengisi waktu menjelang magrib.

Di wilayah Minangkabau dikenal istilah malengah puaso, di Banjar disebut basambang, sedangkan di Madura dikenal sebagai nyarè malem atau nyarè bhuka’an.

Bahkan di wilayah Tanah Melayu seperti Batam dan sekitarnya, istilah ngabuburit juga digunakan untuk menggambarkan keramaian Pasar Ramadan atau Pasar Juadah. 

Di sana, masyarakat berburu aneka kuliner khas seperti nasi lemak, roti john, ayam percik, hingga berbagai minuman segar.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved