Tradisi dan Budaya di Jatim
Tradisi Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Napak Tilas Warga Boyolangu Menuju Pantai Watu Dodol
Digelar tiap 10 Syawal, tradisi Puter Kayun membawa warga Boyolangu Banyuwangi napak tilas ke Pantai Watu Dodol.
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Puter Kayun merupakan tradisi tahunan warga Boyolangu, Banyuwangi, yang digelar setiap 10 Syawal dengan perjalanan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol.
- Warga beriringan menaiki dokar berhias ornamen warna-warni sambil mengenakan pakaian adat Osing.
- Tradisi ini berkaitan dengan kisah Ki Buyut Jakso yang dipercaya berjasa membuka akses jalan di wilayah tersebut.
- Setibanya di pantai, warga menggelar selamatan, makan bersama, dan ritual tabur bunga sebagai bentuk syukur.
TRIBUNJATIM.COM - Kabupaten Banyuwangi dikenal memiliki beragam tradisi adat yang masih dilestarikan hingga kini.
Salah satu tradisi unik yang rutin digelar setiap tahun adalah Puter Kayun, tradisi masyarakat Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Jawa Timur.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya hari ke-10 bulan Syawal.
Puter Kayun menjadi bagian dari rangkaian tradisi masyarakat Osing Banyuwangi yang mewarnai perayaan setelah Idul Fitri.
Dilansir dari banyuwangikab.go.id, Puter Kayun merupakan ritual napak tilas yang dilakukan warga dengan menaiki dokar atau delman secara bersama-sama.
Rombongan warga berangkat dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol yang berjarak sekitar 15 kilometer.
Iring-iringan dokar tersebut biasanya dihias dengan berbagai bunga dan ornamen warna-warni layaknya andong wisata.
Warga mengenakan pakaian adat khas Osing dan mengikuti perjalanan tersebut dengan penuh antusias.
Tidak hanya warga Boyolangu, masyarakat dari daerah lain juga ikut menyaksikan tradisi ini karena dianggap sebagai atraksi budaya yang unik di Banyuwangi.
Baca juga: Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi, Tradisi Sakral yang Digelar Masyarakat Osing Sejak Ratusan Tahun
Napak Tilas Jejak Leluhur Ki Buyut Jakso
Tradisi Puter Kayun memiliki hubungan erat dengan kisah leluhur masyarakat Boyolangu, yaitu Ki Buyut Jakso.
Dikutip dari travel.kompas.com, tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Jakso yang dipercaya berjasa membuka akses jalan di wilayah utara Banyuwangi.
Konon, pada masa itu Belanda meminta bantuan kepada Ki Buyut Jakso karena terdapat gundukan gunung yang tidak dapat dibongkar saat proses pembangunan jalan.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Ki Buyut Jakso kemudian melakukan semedi di Gunung Silangu yang kini menjadi wilayah Boyolangu.
Puter Kayun
Banyuwangi
Pantai Watu Dodol
Kecamatan Boyolangu
tradisi di Jatim
Osing Banyuwangi
dokar
Ki Buyut Jakso
napak tilas
Tribun Jatim
tradisi masyarakat Osing
Tradisi Puter Kayun Banyuwangi
TribunJatim.com
Tradisi Banyuwangi
| Mengenal Lebih Dekat Jaranan Tril Blitar, Kesenian Unik dengan Iringan Musik Non Gamelan |
|
|---|
| Tradisi Ogoh-ogoh di Lumajang, Simbol Spiritual dan Toleransi Antarumat |
|
|---|
| Tradisi Thethek Melek di Pacitan, Ritual Petani Usir Hama demiJaga Keseimbangan Manusia dengan Alam |
|
|---|
| Kerapan Sapi Brujul Probolinggo, Tradisi Balap Sapi yang Kini Jadi Penggerak Ekonomi & Pesta Rakyat |
|
|---|
| Tari Godril Lumajangan, Akulturasi Budaya Kolonial Dancen Van Java dengan Karakter Pendalungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tradisi-Puter-Kayun.jpg)