Tradisi dan Budaya di Jatim

Kerapan Sapi Brujul Probolinggo, Tradisi Balap Sapi yang Kini Jadi Penggerak Ekonomi & Pesta Rakyat

Berawal dari kebiasaan petani, Kerapan Sapi Brujul kini menjadi tradisi sekaligus ikon budaya Probolinggo yang menggerakkan ekonomi dan pariwisata.

probolinggokota.go.id
KERAPAN SAPI BRUJUL PROBOLINGGO – Kerapan Sapi Brujul merupakan tradisi budaya khas petani di Kota Probolinggo, Jawa Timur, berupa perlombaan balap sepasang sapi di sawah yang berlumpur dan berair. Berbeda dari karapan sapi Madura, tradisi ini menggunakan sapi pembajak sawah dan biasanya digelar menjelang musim tanam. 

Ringkasan Berita:
  • Kerapan Sapi Brujul merupakan tradisi unik Probolinggo yang berasal dari kebiasaan petani dan kini menjadi balapan sapi di sawah berlumpur yang penuh keseruan. 
  • Tradisi ini berkembang menjadi pesta rakyat yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan ekonomi melalui UMKM serta meningkatkan nilai jual sapi. 
  • Telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2019, Kerapan Sapi Brujul terus dilestarikan dan dipromosikan hingga ke tingkat internasional.

 

TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Kerapan Sapi Brujul menjadi salah satu warisan budaya unik khas Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Berbeda dari kerapan sapi pada umumnya, tradisi ini digelar di area persawahan berlumpur, menghadirkan sensasi balapan yang penuh tantangan sekaligus hiburan rakyat yang memacu adrenalin.

Berikut ulasan lengkap mengenai Kerapan Sapi Brujul, mulai dari sejarah, prosesi, hingga makna dan perkembangannya.

Asal-usul Kerapan Sapi Brujul dari Tradisi Petani

DIketahui, Kerapan Sapi Brujul berawal dari kebiasaan petani yang membajak sawah menggunakan sepasang sapi sebelum masa tanam padi.

Untuk mengusir rasa lelah dan jenuh, para petani kemudian mengadakan balapan kecil di lahan sawah yang berlumpur.

Seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi tradisi tahunan yang digelar menjelang musim tanam sebagai bentuk hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Awalnya, kegiatan ini tidak bersifat kompetitif dan tanpa hadiah.

Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat, lomba mulai terorganisasi dengan aturan tertentu, termasuk kewajiban joki mengenakan udheng (ikat kepala khas Probolingggo) sebagai identitas budaya lokal.

Baca juga: Dari Kayu Waru, Perajin Jombang Lestarikan Tradisi Wayang Topeng Jatiduwur

Arena Berlumpur Jadi Ciri Khas

Kerapan Sapi Brujul di Probolinggo menghadirkan keseruan balapan di tengah lumpur, tradisi khas yang terus dilestarikan hingga kini.
Kerapan Sapi Brujul di Probolinggo menghadirkan keseruan balapan di tengah lumpur, tradisi khas yang terus dilestarikan hingga kini. (probolinggokota.go.id)

Berbeda dengan kerapan sapi Madura, Kerapan Sapi Brujul menggunakan sapi pembajak sawah yang bertubuh lebih besar dan tidak terlalu cepat.

Dilansir dari kompas.id, perlombaan digelar di sawah yang telah digenangi air dengan lintasan sekitar 50 hingga 150 meter.

Sepasang sapi akan berpacu menembus lumpur dengan arahan joki di atasnya.

Sebelum lomba dimulai, suasana semakin meriah dengan suara musik tradisional seperti saronen serta pengumuman panitia yang memanggil peserta.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved