Tradisi dan Budaya di Jatim
Tradisi Tompokan, Cara Warga Jember Patungan Sapi demi Hidangan Daging saat Lebaran
Tradisi tompokan di Jember membuat warga patungan membeli sapi untuk dibagikan saat Lebaran. Begini asal-usul dan cara pelaksanaannya.
Penulis: Regha Ayunda Bella | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Tradisi tompokan merupakan kebiasaan masyarakat Jember menyambut Lebaran dengan cara patungan atau arisan untuk membeli sapi yang kemudian disembelih dan dibagikan.
- Tradisi ini berawal dari iuran kecil dalam kegiatan Yasinan atau tahlilan warga yang dikumpulkan secara bertahap hingga cukup untuk membeli sapi.
- Setelah disembelih, daging sapi dibagi merata kepada anggota sekitar 2,5–3 kilogram per orang. Tradisi ini dinilai membantu warga memperoleh daging murah, sekaligus mempererat kebersamaan.
TRIBUNJATIM.COM – Tradisi tompokan menjadi salah satu kebiasaan masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi ini dilakukan dengan cara patungan atau arisan untuk membeli sapi yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada para peserta menjelang Lebaran.
Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini masih dipertahankan oleh masyarakat desa karena dianggap dapat membantu warga mendapatkan daging dengan harga yang lebih terjangkau.
Selain itu, kegiatan tersebut juga mempererat kebersamaan antarwarga di lingkungan sekitar.
Tradisi Tompokan, Patungan Sapi untuk Sambut Lebaran
Dilansir dari nu.or.id, tradisi tompokan merupakan kebiasaan masyarakat desa di Kabupaten Jember dan sekitarnya untuk menyambut datangnya Lebaran Idulfitri.
Dalam tradisi ini, warga melakukan patungan untuk membeli seekor sapi yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada anggota yang ikut berpartisipasi.
Seorang warga Desa Suco Krajan, Kecamatan Mumbulsari, Jember bernama Yusuf mengatakan bahwa tradisi ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, kegiatan tersebut muncul karena banyak warga desa yang tidak mampu membeli daging sapi secara langsung di pasar.
Salah satu kelompok tompokan terdapat sekitar 40 warga yang ikut patungan dengan iuran sekitar Rp180 ribu per orang.
Uang tersebut biasanya tidak dibayar sekaligus, melainkan diangsur setiap ada kegiatan keagamaan seperti Yasinan.
Setelah dana terkumpul, koordinator kelompok akan membeli sapi di pasar.
Jika uang yang terkumpul mencapai sekitar Rp7,2 juta, maka sapi tersebut kemudian disembelih satu hari sebelum Lebaran atau H-1 Idul Fitri untuk dibagikan kepada seluruh anggota tompokan.
Baca juga: Tradisi Bibien di Lereng Gunung Raung Bondowoso, Dari Peninggalan Leluhur hingga Kampanye Lingkungan
Berasal dari Arisan Yasinan hingga Tradisi Tahunan
Tradisi tompokan awalnya berkembang dari kegiatan arisan kecil yang dilakukan bersamaan dengan acara Yasinan atau sarwa’an (tahlilan) di lingkungan warga.
Dalam kegiatan tersebut biasanya ada iuran tambahan yang dikumpulkan secara bertahap.
Sebagaimana dijelaskan oleh pengurus Ranting NU Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Ustadz Misbahul Munir, iuran tompokan biasanya ditarik setiap kali pertemuan Yasinan berlangsung.
Kegiatan Yasinan sendiri umumnya dilaksanakan setiap malam Jumat di mushala atau secara bergiliran di rumah warga.
Setelah iuran terkumpul selama beberapa bulan hingga menjelang Ramadhan, dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sapi.
Penyembelihan sapi biasanya dilakukan menjelang Lebaran agar dagingnya dapat dimasak sebagai hidangan keluarga saat hari raya.
Menurut Ustadz Misbah, sistem arisan tompokan dinilai lebih ringan bagi masyarakat karena pembayaran dilakukan secara bertahap.
Dengan iuran sekitar Rp350 ribu per tahun, anggota bisa mendapatkan sekitar 2,5 kilogram daging sapi murni beserta bagian lainnya.
Baca juga: Tradisi Puter Kayun Banyuwangi, Ritual Napak Tilas Warga Boyolangu Menuju Pantai Watu Dodol
Cara Pembagian Daging dalam Tradisi Tompokan
Setelah sapi disembelih, proses pemotongan dan pembagian daging biasanya dilakukan secara gotong royong oleh warga desa.
Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi yang memperkuat solidaritas antaranggota masyarakat.
Setiap peserta tompokan biasanya mendapatkan sekitar 2,5 hingga 3 kilogram daging sapi.
Daging tersebut terdiri dari daging murni, tulang, hati, dan bagian lainnya yang disusun menjadi satu tumpukan.
Istilah tompokan sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti “tumpukan”. Maksudnya, setiap anggota
mendapatkan satu tumpukan daging lengkap dengan berbagai bagian sapi yang telah ditimbang secara merata.
Daging yang dibagikan biasanya diletakkan di atas daun pisang sebelum dibawa pulang oleh masing-masing anggota.
Selanjutnya daging tersebut dimasak untuk hidangan keluarga saat Lebaran atau dijadikan hantaran ketika bersilaturahmi ke rumah kerabat.
Baca juga: Mengenal Gulat Okol Gresik, Tradisi Adu Kekuatan yang Lahir dari Kisah Kemarau Panjang
Tradisi yang Tetap Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Daging
Tradisi tompokan masih bertahan hingga sekarang karena dinilai lebih hemat dibandingkan membeli daging secara langsung di pasar.
Apalagi menjelang Lebaran, harga daging sapi biasanya mengalami kenaikan. Dalam laporan yang dikutip dari nu.or.id, harga daging sapi di Jember menjelang Lebaran bisa mencapai Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat sistem arisan tompokan menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan daging dengan biaya yang lebih ringan.
Dilansir dari laporan pemerintah daerah, sebagaimana diberitakan dalam kegiatan sidak pasar oleh Pemkab Jember, tradisi tompokan bahkan menjadi salah satu alasan menurunnya pembelian daging di pasar menjelang Lebaran.
Dalam kegiatan inspeksi pasar yang dilakukan Bupati Jember Hendy Siswanto, disebutkan bahwa partisipasi masyarakat dalam tradisi tompokan cukup tinggi.
Bahkan jumlah daging yang dihasilkan dari tradisi tersebut bisa mencapai sekitar dua ton.
Baca juga: Mengenal Tradisi Pegon di Jember, Pawai Gerobak Sapi Menuju Pantai Watu Ulo Saat Lebaran Ketupat
Tradisi Serupa dalam Budaya Masyarakat Madura
Selain dikenal dengan nama tompokan, tradisi serupa juga dikenal dengan istilah lain di beberapa wilayah Jember.
Dikutip dari nasional.kompas.com, masyarakat komunitas Madura perantauan di Jember mengenal tradisi serupa yang disebut congkekan.
Congkekan merupakan praktik arisan atau tabungan daging sapi yang dilakukan menjelang Lebaran.
Tradisi ini melibatkan sejumlah warga yang menabung bersama untuk membeli seekor sapi yang kemudian disembelih secara bersama-sama.
Sebagaimana diberitakan nasional.kompas.com, di Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, tradisi congkekan pernah diikuti oleh sekitar 54 warga yang tergabung dalam komunitas kerukunan masjid.
Sapi yang dibeli dari hasil tabungan tersebut kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh peserta.
Keberadaan tradisi seperti tompokan dan congkekan menunjukkan kuatnya nilai gotong royong di tengah masyarakat.
Tradisi ini tidak hanya membantu warga memperoleh daging untuk Lebaran, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga di lingkungan sekitar.
Tradisi Tompokan
Patungan Sapi
Hidangan Daging saat Lebaran
Kabupaten Jember
Jawa Timur
Kecamatan Mumbulsari
Tradisi Congkekan
Desa Gugut
Kecamatan Rambipuji
Tribun Jatim
TribunJatim.com
Hari Raya Idul Fitri
Jember
| Grebeg Tengger Tirto Aji, Tradisi Pengambilan Air Suci yang Jadi Simbol Syukur dan Harmoni Alam |
|
|---|
| Tradisi Mbabar Mbubur Suro Malang, Ritual Sakral Menyambut Tahun Baru Islam di Makam Ki Ageng Gribig |
|
|---|
| Meriahnya Tradisi Tumpengan Manggis di Jombang, Dari Kirab hingga Rebutan Dua Ton Buah Gratis |
|
|---|
| Tradisi Kebur Ubalan Kediri, Ritual Sakral Simbol Kemakmuran Desa |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Jaranan Kediri, Dari Legenda Dewi Songgolangit hingga Atraksi Kesurupan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Tadisi-Tompokan.jpg)