Lebaran 2026

Mengenal Kupat Keteg Khas Gresik yang Unik, Dimasak dengan Air Endapan Minyak

Dimasak dengan air endapan minyak, Kupat Keteg menjadi kuliner legendaris Gresik peninggalan Sunan Giri yang saat ini keberadaannya mulai langka.

Tayang:
Dok. jadesta.kemenpar.go.id
KUPAT KETEG GRESIK - Kuliner tradisional khas Desa Giri, Gresik, yang dimasak menggunakan air endapan sumur minyak (air keteg) dari sumur tua di Bukit Giri, sehingga menghasilkan cita rasa gurih khas. Makanan ini bisanya disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah saat tradisi Malam Selawe serta Perayaan Lebaran Ketupat. 
Ringkasan Berita:
  • Kupat Keteg merupakan kuliner khas Desa Giri, Gresik, yang telah ada sejak masa Kerajaan Giri Kedaton abad ke-15 dan menjadi bagian dari tradisi religius seperti malam selawe dan Lebaran Ketupat.
  • Uniknya, kuliner ini terbuat beras ketan yang dimasak dengan air keteg dari sumur tua di Bukit Giri, sehingga menghasilkan cita rasa gurih khas.
  • Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, keberadaannya kini mulai langka karena keterbatasan air keteg dan semakin sedikitnya jumlah pembuat.

 

TRIBUNJATIM.COMKabupaten Gresik memiliki beragam kuliner tradisional yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Salah satunya adalah Kupat Keteg, makanan khas Desa Giri, Kecamatan Kebomas, yang memiliki cita rasa unik sekaligus filosofi mendalam.

Kupat Keteg tidak hanya dikenal sebagai hidangan khas Lebaran, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi religius yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Asal-usul Kupat Keteg dari Masa Kerajaan Giri Kedaton

Kupat Keteg, kuliner tradisional khas Desa Giri, Gresik, yang dikenal dengan cita rasa gurih khas berkat penggunaan air keteg.
Kupat Keteg, kuliner tradisional khas Desa Giri, Gresik, yang dikenal dengan cita rasa gurih khas berkat penggunaan air keteg. (Kompas.com)

Diketahui, Kupat Keteg telah ada sejak masa Kerajaan Giri Kedaton pada abad ke-15.

Kuliner ini lahir dari akulturasi budaya dan nilai keagamaan yang berkembang di kawasan Giri.

Dilansir dari disparekrafbudpora.gresikkab.go.id, pada masa tersebut Kupat Keteg biasa disajikan saat malam ke-25 Ramadan atau yang dikenal sebagai malam selawe, serta saat perayaan Lebaran Ketupat.

Selain itu, Kupat Keteg juga sering dikaitkan dengan tradisi peninggalan Sunan Giri dan menjadi sajian khas bagi para peziarah di kawasan makamnya.

Baca juga: Nasi Boran Lamongan Jadi Favorit Wisata Kuliner Pemudik, Pembeli Membludak di Hari Kedua Lebaran

Keunikan Bahan: Dimasak dengan Air Keteg

Kupat Keteg memiliki keunikan tersendiri dibanding ketupat pada umumnya.

Salah satu keunikan utama Kupat Keteg terletak pada bahan dan proses pembuatannya.

Kupat Keteg dibuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan air keteg, yaitu air endapan minyak mentah yang berasal dari sumur tua di kawasan Bukit Giri.

Air ini memiliki warna kehijauan atau kekuningan dan memberikan cita rasa gurih khas yang tidak ditemukan pada ketupat biasa.

Proses memasaknya pun memakan waktu cukup lama, yakni sekitar empat hingga lima jam, sebagaimana dilansir dari budaya-indonesia.org.

Selain itu, kupat ini dibungkus menggunakan daun janur, daun gebang, atau bahkan daun lontar, yang dibentuk menjadi selongsong ketupat.

Menariknya, air keteg yang digunakan biasanya diendapkan terlebih dahulu selama beberapa hari agar lebih jernih dan layak digunakan untuk memasak.

Cita Rasa Gurih dan Cara Penyajian Khas

Kupat Keteg dikenal memiliki rasa gurih dan sedikit asin yang khas berkat penggunaan air keteg dalam proses memasaknya.

Berbeda dengan ketupat pada umumnya yang disajikan dengan opor atau gulai, Kupat Keteg justru disantap dengan cara sederhana.

Dilansir dari regional.kompas.com, kupat yang telah dipotong-potong biasanya disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah cair, mirip dengan sajian jajanan pasar seperti kue lupis.

Kombinasi rasa gurih dari ketan dan manis dari gula merah menciptakan sensasi rasa yang unik dan khas.

Baca juga: Ayam Lodho Khas Trenggalek Sajikan Jejak Kuliner Kerajaan dalam Olahannya, dari Hajatan Kini Populer

Tradisi Lebaran dan Daya Tarik Wisata Religi

Kupat Keteg Gresik
Kupat Keteg disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah, menjadi sajian khas saat tradisi malam selawe serta perayaan Lebaran Ketupat di Gresik. (disparekrafbudpora.gresikkab.go.id)

Kupat Keteg menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Gresik, terutama saat momen Ramadan.

Selain disajikan pada malam selawe, makanan ini juga kerap hadir saat Lebaran Ketupat atau tujuh hari setelah Idul Fitri.

Keberadaannya yang dekat dengan kawasan makam Sunan Giri menjadikan Kupat Keteg juga sebagai daya tarik wisata religi.

Banyak peziarah yang menjadikannya sebagai makanan favorit serta oleh-oleh khas saat berkunjung ke Gresik.

Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Kupat Keteg kini tidak hanya dikenal sebagai kuliner tradisional, tetapi juga telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Dilansir dari gresikkab.go.id, Kupat Keteg resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Kebudayaan pada 22 Februari 2026 lalu.

Penetapan ini menjadi bentuk pengakuan atas nilai sejarah, budaya, serta filosofi yang terkandung di Kupat Keteg.

Selain itu, penetapan WBTBI ini diharapkan dapat mendorong pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Gresik ke tingkat yang lebih luas.

Bahkan, pemerintah daerah juga turut menekankan pentingnya pelestarian tradisi ini agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Baca juga: Mengapa Opor Ayam Jadi Makanan Khas saat Lebaran? Ini Sejarah, Makna dan Filosofinya

Mulai Langka karena Keterbatasan Bahan

Di balik keunikan dan popularitasnya, Kupat Keteg kini menghadapi tantangan dalam pelestariannya.

Salah satu kendala utama adalah keterbatasan air keteg yang hanya bisa diperoleh dari sumur tua di Bukit Giri.

Diketahui, sumber air keteg di Bukit Giri kini semakin berkurang dan debitnya kecil, sehingga masyarakat tidak dapat memproduksi Kupat Keteg dalam jumlah besar.

Selain itu, jumlah pembuat Kupat Keteg juga semakin sedikit, bahkan di beberapa wilayah hanya tersisa segelintir orang yang masih mempertahankan tradisi ini.

Akibatnya, kuliner ini tidak selalu tersedia setiap hari dan biasanya hanya dapat ditemukan pada saat momen tertentu.

Baca juga: Mengulik Makna Ketupat dalam Tradisi Lebaran, Simbol Kesempurnaan Ibadah hingga Saling Memaafkan

Simbol Tradisi dan Identitas Gresik

Lebih dari sekadar makanan, Kupat Keteg mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Gresik.

Dari proses pembuatannya yang unik hingga perannya dalam tradisi keagamaan, Kupat Keteg menjadi simbol identitas daerah yang patut dilestarikan.

Dengan segala keunikan rasa dan nilai sejarahnya, Kupat Keteg tetap menjadi salah satu kuliner legendaris yang memperkaya khazanah budaya Indonesia, khususnya di Kabupaten Gresik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved