Tradisi dan Budaya di Jatim

Dari Telur hingga Jodhang, Ini Makna Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi

Meriah dan penuh makna, Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi hadirkan pawai jodhang dan momen berbagi telur sebagai simbol kebersamaan warga.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Aflahul Abidin
TRADISI ENDHOG-ENDHOGAN Banyuwangi - Tradisi endhog-endhogan di Banyuwangi, Jawa Timur saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, berupa telur hias yang ditancapkan pada jodhang dan diarak keliling kampung sebagai simbol kebersamaan dan syiar Islam. 

Seiring waktu, tradisi endhog-endhogan mulai mendapat perhatian pemerintah daerah. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir, tradisi ini masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival sebagai agenda budaya tahunan.

Filosofi di Balik Endhog-Endhogan

Tradisi endhog-endhogan tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarat makna filosofis. 

Telur yang digunakan memiliki tiga lapisan, yakni kulit, putih, dan kuning telur yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan sebagai dasar ajaran dalam kehidupan umat Muslim.

Selain itu, batang pisang atau jodhang yang digunakan juga memiliki simbol tersendiri. 

Pohon pisang dikenal sebagai tanaman yang terus tumbuh meski dipotong, sehingga melambangkan semangat hidup dan keberlanjutan.

Melansir budaya-indonesia.org, hiasan warna-warni pada telur dan jodhang juga menggambarkan keindahan ajaran Islam yang membawa kehidupan dari masa jahiliyah menuju masa yang penuh nilai keimanan.

Makna-makna tersebut menjadikan tradisi ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya akan nilai edukasi dan spiritual.

Baca juga: Upacara Kebo Ketan, Tradisi Maulid Nabi di Ngawi untuk Tebar Pesan Pelestarian Alam

Tradisi endhog-endhogan Banyuwangi.
Tradisi endhog-endhogan Banyuwangi. (TribunJatim.com/Haorrahman)

Pelaksanaan dan Kemeriahan Festival

Pelaksanaan endhog-endhogan umumnya dilakukan sepanjang bulan Rabiul Awal. 

Puncaknya ditandai dengan pawai besar yang melibatkan ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai desa.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, ribuan warga mengikuti pawai dengan mengarak jodhang sejauh sekitar 1,5 kilometer. 

Pawai tersebut dihiasi berbagai ornamen islami seperti replika Ka’bah, kubah masjid, hingga bentuk kreatif lainnya.

Selain pawai, rangkaian acara biasanya dilengkapi dengan pembacaan selawat, dzikir maulid, hingga pengajian umum. 

Setelah itu, telur yang telah diarak akan dibagikan kepada masyarakat untuk dinikmati bersama.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved