Tradisi dan Budaya di Jatim
Mengenal Reog Bulkiyo Blitar, Warisan Latihan Perang Prajurit Diponegoro
Mengusung kisah perang dan semangat perjuangan, Reog Bulkiyo menjadi simbol budaya Blitar yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.
Penulis: Septadera Candra Purnama | Editor: Mujib Anwar
Ringkasan Berita:
- Reog Bulkiyo merupakan kesenian khas Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang berbeda dari reog lainnya karena tampil tanpa barongan, namun sarat nilai sejarah, religius, dan perjuangan.
- Berasal dari prajurit Pangeran Diponegoro, kesenian ini awalnya menjadi media latihan perang dan menggambarkan semangat perlawanan terhadap penjajah.
- Kini, Reog Bulkiyo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dan terus dilestarikan melalui pertunjukan, kegiatan budaya, serta regenerasi seniman di Desa Kemloko.
TRIBUNJATIM.COM – Kesenian Reog Bulkiyo merupakan salah satu warisan budaya khas Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan reog pada umumnya.
Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, kesenian ini juga sarat nilai sejarah, religius, dan sosial.
Berbeda dari reog lain, Reog Bulkiyo hadir dengan bentuk pertunjukan yang lebih sederhana, namun tetap menyimpan makna perjuangan dan spiritualitas yang kuat.
Berasal dari Desa Kemloko di Blitar
Reog Bulkiyo merupakan tarian tradisional yang berkembang di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Kesenian ini memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari reog lain seperti Reog Ponorogo.
Jika reog pada umumnya identik dengan topeng besar atau barongan, Reog Bulkiyo justru tidak menggunakan atribut tersebut, melainkan mengandalkan gerak tari, unsur dramatik, serta iringan musik tradisional.
Kesederhanaan visual tersebut justru memperkuat nilai historis dan spiritual yang terkandung dalam pertunjukannya.
Baca juga: Mengenal Reog Kendang, Kesenian Khas Tulungagung yang Lahir dari Kisah Gemblak Pencari Jati Diri
Warisan Prajurit Pangeran Diponegoro
Dilansir dari Kompas.com, Reog Bulkiyo memiliki latar sejarah yang kuat, yakni berkaitan dengan peristiwa Perang Diponegoro sekitar sekitar tahun 1825-1830.
Kesenian ini konon diciptakan oleh dua prajurit Pangeran Diponegoro asal Bagelen, Jawa Tengah, yaitu Kasan Mustar dan Kasan Ilyas.
Saat itu, keduanya melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda hingga tiba di Desa Kemloko, Blitar.
Meski dalam pelarian, semangat untuk melawan penjajah tidak pernah padam.
Mereka kemudian menciptakan tarian yang sebenarnya merupakan media terselubung untuk berlatih perang.
Reog Bulkiyo
Sejarah Reog Bulkiyo
Reog Bulkiyo Blitar
Kesenian Khas Blitar
Tarian Tradisional Blitar
Pangeran Diponegoro
perang Diponegoro
Desa Kemloko
Kecamatan Nglegok
Kabupaten Blitar
Blitar
Jawa Timur
Tribun Jatim
TribunJatim.com
meaningful
warisan budaya takbenda
tarian tradisional
latihan perang
| Mengenal Reog Kendang, Kesenian Khas Tulungagung yang Lahir dari Kisah Gemblak Pencari Jati Diri |
|
|---|
| Mengenal Kesenian Kuda Lumping, Warisan Budaya Jawa yang Penuh Unsur Magis dan Makna Filosofis |
|
|---|
| Menjaga Tradisi di Lereng Wilis, Ritual Siraman Sedudo Nganjuk yang Terus Hidup Melintasi Zaman |
|
|---|
| Romansa Pesisir Banyuwangi, Mengungkap Asal-usul Tari Padangulan dan Tradisi Purnama Muda-Mudi |
|
|---|
| Sandur Manduro Jombang, Warisan Kesenian Tradisional yang Lahir dari Akulturasi Jawa dan Madura |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Reog-Bulkiyo-Blitar.jpg)