Tradisi dan Budaya di Jatim

Mengenal Reog Bulkiyo Blitar, Warisan Latihan Perang Prajurit Diponegoro

Mengusung kisah perang dan semangat perjuangan, Reog Bulkiyo menjadi simbol budaya Blitar yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.

Kemendikbud
REOG BULKIYO BLITAR – Reog Bulkiyo merupakan kesenian tradisional khas dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang bernapaskan Islam dan sarat nilai historis perjuangan prajurit Pangeran Diponegoro. 

Lebih dalam, musik berfungsi mengarahkan gerakan penari sehingga tercipta keselarasan antara ritme dan dinamika tari.

Bahkan, irama musik mampu menstimulasi respons penonton sekaligus memperkuat suasana pertunjukan.

Dari sisi emosional, musik dalam Reog Bulkiyo terbagi dalam beberapa bagian, yaitu:

  1. Irama Lambat: Digunakan pada adegan pembuka untuk menciptakan suasana tenang dan khidmat.
  2. Ritme Cepat: Muncul pada adegan perang guna membangun ketegangan dan dinamika konflik.
  3. Tempo Meningkat: Pada bagian penutup, musik dimainkan semakin cepat untuk membangun atmosfer heroik dan menggugah semangat kepahlawanan.

Seiring perkembangan zaman, fungsi musik dalam Reog Bulkiyo juga semakin luas.

Selain menjadi penggerak gerak tari dan media ekspresi emosi, musik juga berfungsi sebagai sarana hiburan dalam berbagai acara adat dan perayaan masyarakat.

Tidak hanya itu, musik turut menjadi media penyampaian nilai moral dan keagamaan, sekaligus berperan menjaga stabilitas budaya sebagai identitas khas masyarakat Blitar.

Baca juga: Sandur Manduro Jombang, Warisan Kesenian Tradisional yang Lahir dari Akulturasi Jawa dan Madura

Warisan Budaya Takbenda Nasional

Sebagai bentuk pelestarian budaya, Reog Bulkiyo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 16 Agustus 2019.

Penetapan ini memperkuat posisi Reog Bulkiyo sebagai identitas budaya masyarakat Blitar yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Selain itu, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah daerah.

Salah satunya melalui kegiatan “Ruang Kreasi Reog Bulkiyo” yang digelar oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI di Blitar pada 20 Desember 2025.

Dikutip dari budayajatim.com, kegiatan ini bertujuan mengenalkan Reog Bulkiyo ke masyarakat luas, mendorong regenerasi penari, sekaligus menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.

Bahkan di tengah perkembangan zaman, kesenian Reog Bulkiyo tetap terjaga keasliannya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Kesenian Jaran Kencak Lumajang, Bermula Kuda Memberontak Jadi Budaya Diminati Warga

Simbol Identitas dan Pelestarian Budaya

Saat ini, diketahui kelompok Reog Bulkiyo di Desa Kemloko dipimpin oleh Supangi dengan total 22 anggota. Kelompok ini menjadi satu-satunya penjaga warisan Kasan Mustar dan Kasan Ilyas di Blitar.

Reog Bulkiyo bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga representasi sejarah perjuangan, nilai religius, serta identitas budaya masyarakat Blitar.

Meski zaman terus berkembang, Reog Bulkiyo tetap bertahan sebagai warisan budaya yang perlu dijaga.

Pelestarian melalui pendidikan, pertunjukan, dan keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kesenian ini tidak hilang ditelan zaman.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved