Dilema Pengusaha Kuliner di Tulungagung Terdampak Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi

Kenaikan harga LPG nonsubsidi menjadi pukulan bagi pengusaha kuliner di  Kabupaten Tulungagung.

Penulis: David Yohanes | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/David Yohanes
DAFTAR HARGA - Daftar harga gas LPG nonsubsidi di salah satu pangkalan yang ada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pengusaha kuliner di Kabupaten Tulungagung terpengaruh kenaikan gas elpiji nonsubsidi. 

 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga LPG nonsubsidi berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner di Tulungagung.
  • Harga LPG 12 kg naik menjadi Rp232.000 dan 5,5 kg sekitar Rp111.000.\
  • Pengusaha kuliner mengalami kenaikan biaya produksi karena sangat bergantung pada penggunaan gas.
  • Pelaku usaha mempertimbangkan efisiensi, menahan kenaikan harga jual, hingga mencari energi alternatif.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Kenaikan harga LPG nonsubsidi menjadi pukulan bagi pengusaha kuliner di  Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Hal ini disampaikan Hari Pradana, pemilik sejumlah usaha kuliner, salah satunya Nirwana Bambu di  Desa Kalangan, Kecamatan Ngunut.

Saat ini harga LPG 12 kg naik dari Rp 194.000 menjadi Rp 232.000. Sementara harga LPG 5,5 kg menjadi Rp 111.000, naik sekitar Rp 20.000 dari harga lama.

“Pasti sangat terpengaruh (kenaikan harga gas nonsubsidi). Selisih harga sangat diperhitungkan,” ujar Hari.

Selama ini Hari membutuhkan 8 tabung LPG 12 kg per bulan.

Kebutuhan gas LPG saat Bulan Ramadan akan meningkat bisa lebih dari 2 kali lipat.

Menurutnya, usaha makanan siap saji sangat tergantung pada api.

“Beda dengan produsen kue, pengemasan dan pemasaran yang lebih banyak. Kalau rumah makan sangat tergantung pada api untuk memasak,” tambahnya.

Baca juga: Harga LPG Nonsubsidi Naik Ugal-ugalan, Banyak Pelanggan di Ponorogo Batalkan Pembelian

Lanjutnya, gas LPG telah menjadi bagian produksi untuk usaha kuliner.

Kenaikan gas LPG nonsubsidi akan berpengaruh langsung pada harga pokok penjualan (HPP).

HPP ini yang menjadi patokan agar sebuah usaha bisa mendapatkan keuntungan.

Kenaikan HPP akan biasanya akan menaikkan harga jual per porsi.

“Bisa saja tidak menaikkan harga, tapi akan menurunkan profit kita. Sementara jika harga naik juga mengubah persepsi pelanggan,” ungkap Hari.

Baca juga: Kenaikan LPG Non Subsidi Bikin Pengusaha Kafe & Resto di Jatim Dilema, Naikkan Harga atau Efisiensi

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved