Tradisi dan Budaya di Jatim

Kesenian Janger Banyuwangi, Hibrida Budaya Jawa dan Bali Karya Pedagang Sapi yang Tetap Eksis

Perpaduan budaya Jawa dan Bali dalam Janger Banyuwangi tetap hidup. Kesenian teater rakyat ini tak sekadar hiburan, tetapi juga sarat nilai sejarah.

Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
KESENIAN JANGER BANYUWANGI - Janger Banyuwangi merupakan seni teater tradisional khas Banyuwangi yang memadukan budaya Jawa dan Bali dalam satu pertunjukan. Menghadirkan tari, musik, lawakan, serta cerita rakyat yang sarat nilai sejarah dan pesan kehidupan. 

Ringkasan Berita:
  • Janger Banyuwangi adalah teater tradisional yang memadukan budaya Jawa dan Bali dalam tari, musik, dan cerita rakyat.
  • Berkembang sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dipelopori Mbah Darji yang terinspirasi teater Bali dan kisah Jawa.
  • Pertunjukan semalam suntuk, menampilkan tari dan kostum Bali, menggunakan bahasa Jawa-Osing, disertai drama dan lawakan.
  • Kini tetap eksis sebagai hiburan, media edukasi, dan simbol kebersamaan masyarakat Banyuwangi.

 

TRIBUNJATIM.COM - Kesenian Janger Banyuwangi menjadi salah satu warisan budaya khas Jawa Timur yang hingga kini masih bertahan di tengah arus modernisasi. 

Seni pertunjukan rakyat ini dikenal sebagai teater tradisional yang memadukan unsur tari, musik, dan lakon cerita dalam satu panggung.

Janger Banyuwangi tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat nilai budaya dan sejarah. 

Dalam pertunjukannya, kesenian ini menggabungkan gamelan dan kostum khas Bali dengan cerita rakyat Jawa yang telah dikenal luas di masyarakat.

Diketahui, Janger juga dikenal dengan sebutan teater Banyuwangi, damarwulan, atau jinggoan. 

Cerita yang diangkat pun beragam, mulai dari Ande-Ande Lumut, Cindelaras, hingga kisah Damarwulan dan Minakjinggo.

Menariknya, pertunjukan Janger biasanya berlangsung semalam suntuk, dimulai setelah salat Isya hingga menjelang Subuh. 

Setiap cerita dibagi dalam beberapa babak yang diselingi tari-tarian dan lawakan.

Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pementasan juga unik. Para pemain menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Using atau Osing sebagai bahasa khas masyarakat Banyuwangi.

Baca juga: Mengenal Reog Kendang, Kesenian Khas Tulungagung yang Lahir dari Kisah Gemblak Pencari Jati Diri

Sejarah dan Asal-usul Janger Banyuwangi

Kesenian Janger Banyuwangi diperkirakan mulai berkembang pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

Sosok yang dikenal sebagai pencetusnya adalah Mbah Darji, seorang pedagang sapi asal Banyuwangi yang gemar berkesenian.

Menurut sejumlah sumber, Mbah Darji terinspirasi dari kesenian teater Arja saat sering melakukan perjalanan ke Bali

Ia kemudian memadukan kesenian tersebut dengan teater rakyat Jawa seperti Ande-Ande Lumut, hingga lahirlah bentuk kesenian baru yang dikenal sebagai Janger.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved