Breaking News

Sejarah di Jatim

Candi Bacem Blitar, Reruntuhan Bersejarah Era Majapahit yang Tetap Dijaga dan Dikeramatkan

Meski tak lagi utuh, Candi Bacem jadi bukti sejarah di Blitar yang belum sepenuhnya terungkap dan diyakini memiliki makna spiritual bagi masyarakat.

sidita.disbudpar.jatimprov.go.id/Januar
CANDI BACEM – Candi Bacem merupakan situs purbakala berupa reruntuhan candi berbahan bata merah yang terletak di Dusun Cungkup, Desa Bacem, Kecamtan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Situs era Majapahit ini terdiri dari dua struktur (induk dan perwara) yang kini hanya tersisa bagian pondasi dan keramat bagi warga setempat dengan nama "Sadran Cungkup". 

Kondisi bangunan yang tersisa saat ini tidak lagi menunjukkan bentuk utuh, melainkan hanya susunan batu bata yang tidak beraturan.

Meski dalam kondisi rusak, sejumlah elemen penting masih dapat dikenali.

Pada bangunan pertama, terdapat sisa tiga tingkat anak tangga di sisi barat yang mengarah ke bagian dalam candi.

Selain itu, tangga dari batu andesit juga ditemukan pada kedua bangunan.

Pada kompleks candi ditemukan sejumlah umpak, yaitu batu penyangga tiang bangunan.

Umpak tersebut memiliki ukuran yang beragam, ada yang polos dan ada pula yang berhias.

Menurut budaya-indonesia.org, jumlah umpak di Candi Bacem mencapai sekitar 11 sampai 13 buah yang tersebar di kedua bangunan.

Umpak tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, ada yang polos maupun berhias.

Keberadaan umpak ini menunjukkan bahwa bangunan candi dahulu kemungkinan memiliki tiang dan atap dari bahan kayu yang mudah lapuk.

Selain itu, ditemukan pula kepingan genteng dan pecahan tanah liat di sekitar situs.

Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa atap candi menggunakan material genteng.

Baca juga: Pesona Candi Sirah Kencong Blitar, Jejak Majapahit di Lereng Gunung dan Kebun Teh 

Temuan Arkeologis di Sekitar Candi

Selain struktur bangunan, di sekitar Candi Bacem juga ditemukan berbagai komponen arkeologis lainnya, seperti batu sudut dan antefiks, fragmen bangunan, batu lonjong, hingga sisa saluran air di bawah tanah (gorong-gorong).

Adanya saluran air tersebut diduga berfungsi untuk mengalirkan air suci, baik untuk kebutuhan ritual maupun menjaga kelembapan bangunan agar tidak cepat rusak.

Fungsi dan Sejarah yang Belum Terungkap

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved