Sejarah di Jatim

Sempat Tertunda Krisis Moneter, Begini Perjalanan Suramadu Jadi Jembatan Terpanjang di Indonesia

Sempat tertunda akibat krisis moneter 1997, Suramadu menyimpan jejak sejarah lintas era presiden sebelum resmi jadi jembatan terpanjang di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Ayesha Naila Tsabita | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Ahmad Faisol
SEJARAH JEMBATAN SURAMADU - Jembatan Suramadu adalah jembatan terpanjang di Indonesia yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura, dengan proses pembangunan yang memakan waktu lama sejak digagas pada 1960-an hingga diresmikan pada 2009. Kini Jembatan Suramadu menjadi ikon infrastruktur sekaligus penggerak ekonomi Jawa Timur. 

Selain memiliki empat lajur utama, Suramadu juga dilengkapi dua lajur darurat dan jalur khusus sepeda motor di kedua sisi jembatan.

Keberadaan Suramadu membuat waktu tempuh Surabaya-Madura menjadi jauh lebih singkat. 

Jika sebelumnya perjalanan menggunakan kapal feri memakan waktu sekitar 30 menit, kini perjalanan bisa ditempuh sekitar 10 menit saja.

Era Presiden Joko Widodo

Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pada 2018, pemerintah resmi menggratiskan tarif Jembatan Suramadu.

Kebijakan tersebut diambil untuk menekan biaya logistik dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Madura.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan bahwa meski digratiskan, pengelolaan Suramadu tetap dilakukan layaknya jalan tol agar arus lalu lintas tetap tertib.

Sebelum tarif dihapus total, pemerintah sempat memberikan diskon tarif hingga 50 persen pada 2016. Bahkan sejak 2015, kendaraan roda dua sudah lebih dulu dibebaskan dari tarif tol.

Kini, Jembatan Suramadu tidak hanya menjadi jalur transportasi penting, tetapi juga telah berkembang menjadi ikon wisata Jawa Timur

Pada malam hari, lampu-lampu di sepanjang jembatan membuat Suramadu tampak megah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Baca juga: Mengenal Kampoeng Ilmu Surabaya, Jejak Perjalanan Pedagang Buku Bekas hingga Menjadi Ikon Literasi

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V akhirnya memasang pengaman jaring kawat besi pada kedua sisi bentang jembatan, baik dari sisi tujuan Surabaya maupun tujuan Madura. Dengan harapan, rentetan aksi bunuh diri dengan melompati pagar pembatas bentang tengah Jembatan Suramadu tidak kembali terulang
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V akhirnya memasang pengaman jaring kawat besi pada kedua sisi bentang jembatan, baik dari sisi tujuan Surabaya maupun tujuan Madura. Dengan harapan, rentetan aksi bunuh diri dengan melompati pagar pembatas bentang tengah Jembatan Suramadu tidak kembali terulang (TribunJatim.com/Ahmad Faisol)

Masa Pandemi

Jembatan Suramadu juga memiliki peran penting saat pandemi Covid-19. 

Pada Mei 2021, akses jembatan sempat ditutup sementara selama masa larangan mudik Lebaran.

Selain itu, pada Juni 2021, penjagaan di pintu keluar Suramadu sisi Surabaya diperketat menyusul lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan.

Memasuki tahun 2026, pemerintah kembali melakukan pengujian rutin terhadap kondisi jembatan guna memastikan struktur jembatan tetap aman dan kokoh.

Penutupan dilakukan secara berkala dalam empat sesi dengan durasi singkat sekitar dua hingga tiga menit setiap sesi.

Pemerintah menegaskan bahwa pengujian tersebut merupakan pemeriksaan rutin lima tahunan dan bukan disebabkan faktor lain.

Hingga kini, Jembatan Suramadu tetap menjadi simbol kemajuan infrastruktur Indonesia sekaligus penggerak utama roda ekonomi antara Surabaya dan Madura.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved