Pedagang Daging Sapi Jombang Protes ke Dinas Peternakan, Daging Luar Daerah Bikin Omzet Anjlok

Sebanyak 6 hingga 10 pedagang mendatangi kantor Dinas Peternakan Kabupaten Jombang untuk menyampaikan keluhan

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Anggit Puji Widodo
PEDAGANG DAGING -  Ulfa (kanan pada foto) dan Ira (tengah pada foto) saat memberikan keterangan kepada awak media di halaman Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Rabu (18/2/2026). Keluhkan banyaknya daging dari luar Jombang masuk dan merusak pasaran. 

Ringkasan Berita:
  • Pedagang Pasar Legi Jombang keberatan daging luar daerah dijual lebih murah.
  • Selisih harga Rp92–95 ribu vs Rp100 ribu per kg picu omzet turun drastis.
  • Jagal minta Disnak Jombang tertibkan distribusi lewat RPH Jombang.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Legi Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, menyuarakan keberatan atas masuknya daging dari luar daerah yang dijual langsung di pasar setempat.

Mereka menilai kondisi tersebut memicu persaingan harga tidak seimbang dan berdampak pada penurunan pendapatan pedagang lokal.

Sebanyak 6 hingga 10 pedagang mendatangi kantor Dinas Peternakan Kabupaten Jombang untuk menyampaikan keluhan.

Mereka berharap ada langkah pengaturan distribusi agar harga di tingkat pasar kembali stabil.

Ulfa (51) dan Ira (43) dua pedagang daging di Pasar Legi yang ikut hadir ke Kantor Disnak Jombang mengungkapkan bahwa pasokan daging dari luar wilayah Rumah Potong Hewan (RPH) Jombang sudah berlangsung sekitar dua tahun terakhir.

Daging tersebut diketahui berasal dari Krian dan kini jumlah pedagangnya terus bertambah.

Baca juga: Sikap Kapolres Jombang soal Sopir Bus Harapan Jaya Mabuk saat Antar Penumpang

Selisih Harga Picu Omzet Turun

"Dulu hanya satu orang membawa dengan motor, sekarang sudah tiga orang dan menggunakan mobil pick-up. Satu mobil bisa mengangkut berapa ekor sapi, tentu jumlahnya tidak sedikit," ucap Ulfa saat dikonfirmasi Tribunjatim.com di halaman luar kantor Dinas Peternakan Jombang pada Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, para pendatang itu merupakan pedagang berstatus jagal atau grosir yang langsung menjual daging secara eceran di kawasan Pasar Legi, khususnya di sisi utara dekat Jalan Mimbar.

Karena mengambil daging langsung dari sumber pemotongan, mereka dapat menawarkan harga lebih rendah dibandingkan pedagang lokal yang membeli dari pemasok.

Baca juga: Sambut Ramadan, Ribuan Botol Miras di Jombang Dimusnahkan, Jumlahnya Menurun Dibanding Tahun Lalu

Pedagang setempat biasanya mendapatkan harga patokan sekitar Rp 100 ribu per kilogram dari jeragan. Sementara itu, pedagang dari luar daerah berani menjual di bawah harga tersebut. Kondisi tersebut membuat pedagang lokal kesulitan bersaing.

"Kami kalah harga. Pembeli lebih dulu ke mereka. Kalau daging mereka belum habis, dagangan kami tidak tersentuh," keluhnya Ira menimpali.

Dampaknya, omzet harian pedagang mengalami penurunan signifikan. Ulfa yang sebelumnya mampu menjual sekitar 45 kilogram per hari, kini mengaku kesulitan mencapai angka tersebut. Ia bahkan harus menambah pinjaman kepada pemasok untuk tetap bisa berjualan.

Jagal Lokal Desak Penertiban Distribusi

"Saya sampai nambah pinjaman agar tetap bisa jualan," kata Ulfa.

Para pedagang berharap instansi terkait, khususnya Dinas Peternakan, dapat segera mengambil langkah pengaturan agar distribusi daging lebih tertib.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved