Hadapi Musim Kemarau Panjang, Petani di Kediri Diminta Pilih Bibit Padi Cepat Panen

Kabupaten Kediri, Jatim, mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan, terutama pada tanaman pangan.

Penulis: Isya Anshori | Editor: Ndaru Wijayanto
Tribun Jatim Network/Isya Anshori
ADAPTIF - Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti menyampaikan antisipasi terkait tanaman padi saat musim kemarau, Selasa (21/4/2026). 

 

Ringkasan Berita:
  • Petani di Kabupaten Kediri diminta bersiap menghadapi musim kemarau panjang hingga Oktober 2026.
  • Dispertabun mendorong penggunaan varietas padi genjah agar panen lebih cepat dan risiko gagal panen berkurang.
  • Penerapan teknologi hemat air seperti System of Rice Intensification (SRI) dan Alternate Wetting and Drying (AWD) kembali digalakkan.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Memasuki musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung hingga Oktober, sektor pertanian di Kabupaten Kediri, Jatim, mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan, terutama pada tanaman pangan.

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri menekankan pentingnya langkah antisipatif agar produksi pertanian tetap terjaga, meskipun dihadapkan pada kondisi cuaca yang ekstrem.

Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri Sukadi melalui Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti menyampaikan capaian produksi tahun 2025 menjadi acuan yang harus dipertahankan pada tahun ini.

"Kalau untuk pengamanan tanaman pangan itu pasti padi di Kabupaten Kediri, kita harus semangatnya itu harus tetep apa yang sudah dicapai di 2025 tetap kita harus pertahankan di 2026. Kalau bisa nambah, kalau enggak paling tidak dengan adanya kemarau panjang sampai Oktober ini kita harus tetap selamatkan tanaman tanaman kita," kata Rini saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026). 

Menurutnya, strategi utama yang dilakukan adalah mendorong penggunaan varietas padi genjah atau berumur pendek agar masa panen lebih cepat dan risiko gagal panen bisa ditekan.

"Langkah pertama pakai varietas yang genjah, jadi benih padinya itu cepat panen. Kemudian yang kedua selain optimalisasi jaringan irigasi, kita juga galakkan untuk pakai pupuk organik padat yang banyak," jelasnya.

Baca juga: Bakar Bekas Jerami, Warga Jongbiru Kediri Malah Kehilangan Kandang Ternak, Habis Dilahap Api

Rini menambahkan, pupuk organik memiliki peran penting dalam menjaga kelembapan tanah selama musim kemarau karena mampu menyerap dan menyimpan air lebih lama.

"Karena dengan pupuk organik padat itu dia akan nyerap air. Jadi dia akan nyimpen air lebih lama. Tanah lebih poros, jadinya air enggak terbuang langsung jadi dia bisa tertahan di masing masing tanaman," imbuhnya.

Selain itu, Dispertabun juga mulai mengenalkan teknologi budidaya hemat air kepada petani, seperti metode SRI (System of Rice Intensification) dan AWD (Alternate Wetting and Drying pada tanaman Padi yang dinilai lebih efisien dalam penggunaan air.

"Dulu kan ada SRI atau mungkin ada AWD yang memang itu hemat air. Ini mulai kita kenakan lagi juga," katanya.

Di sisi lain, untuk wilayah yang tidak memungkinkan ditanami padi, petani didorong beralih ke komoditas lain yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, salah satunya jagung.

"Kalau yang tetap untuk mendukung tanaman pangan yang paling mungkin jagung. Karena jagung, dia lebih tahan dengan kondisi air yang terbatas," jelasnya.

Tak hanya jagung, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai alternatif tanaman pangan lain sebagai cadangan, seperti ubi kayu, ubi jalar, hingga tanaman lokal seperti garut dan gembili.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved