Fatalitas hingga 70 Persen! Mengenal Virus Nipah yang Kembali Mewabah di India dan Cara Mencegahnya
Virus Nipah kembali menjadi sorotan dunia kesehatan global menyusul laporan dua kasus konfirmasi laboratorium di India.
Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Sudarma Adi
Ringkasan Berita:
- Penyebab Virus Nipah (Zoonosis - menular dari hewan ke manusia).
- Reservoir Utama Kelelawar pemakan buah (Pteropodidae).
- Inang Perantara Babi, kucing, anjing, kambing, dan hewan ternak lainnya.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Virus Nipah kembali menjadi sorotan dunia kesehatan global menyusul laporan dua kasus konfirmasi laboratorium di India.
Penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi ini dinilai perlu diwaspadai masyarakat Indonesia, meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Tanah Air.
World Health Organization (WHO) menerima laporan dari National IHR Focal Point for India terkait dua perawat rumah sakit di Barasat, Benggala Barat, yang terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah. Laporan tersebut diterima pada 26 Januari 2026 dan langsung menjadi perhatian internasional.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menyebut virus Nipah termasuk penyakit serius karena tingkat kematiannya sangat tinggi dan belum memiliki vaksin maupun obat antivirus.
Baca juga: Jangan Asal Makan Buah Bekas Gigitan Kelelawar karena Beresiko Menularkan Virus Nipah
Penyakit Zoonosis dengan Angka Kematian Tinggi
“Virus Nipah ini termasuk zoonosis, ditularkan dari hewan ke manusia, terutama oleh kelelawar, juga bisa melalui babi atau hewan ternak lainnya. Kuncinya tetap pada PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat,” ujar Dr. Piprim Basarah, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, angka kematian akibat virus Nipah dapat mencapai 70 persen. Artinya, dari empat orang yang tertular, tiga di antaranya berpotensi meninggal dunia.
“Nipah ini bikin galau karena fatalitasnya sangat tinggi. Tidak ada obat dan vaksinnya. Karena itu pencegahan menjadi sangat penting,” tegasnya.
Secara klinis, infeksi virus Nipah dapat menimbulkan gejala awal seperti demam dan nyeri otot, lalu berkembang menyerang sistem saraf pusat hingga menyebabkan radang otak (ensefalitis).
Dokter Piprim juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai konsumsi buah yang sudah tergigit kelelawar karena berisiko terkontaminasi virus.
“Kolaborasi orang tua dan tenaga kesehatan harus ditingkatkan. Jika ada kematian hewan liar atau ternak, sebaiknya segera dilaporkan. Tidak perlu panik, tapi kewaspadaan mutlak diperlukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski virus Nipah lebih banyak menyerang usia produktif, anak-anak tetap berisiko terinfeksi.
Senada, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali teridentifikasi saat wabah di Malaysia pada 1998.
“Waktu itu penyakit ini masih baru. Karena banyak menyerang sistem saraf dan kesadaran, awalnya dikira Japanese Encephalitis,” ungkap Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Ia menegaskan, kelelawar merupakan reservoir utama virus Nipah, dan saat ini menjadi hewan yang paling diawasi secara global karena berpotensi menularkan berbagai penyakit baru.
Baca juga: Kepala Dinkes Minta Warga Serius Waspada Virus Nipah, Sudah Banyak Kasus Meninggal
virus Nipah
zoonosis
World Health Organization (WHO)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Piprim Basarah Yanuarso
kelelawar
TribunJatim.com
| Truk Bermuatan Batu Bata Mogok di Jalur Perlintasan Kereta Madiun, KA BIAS Telat 36 Menit |
|
|---|
| Bidik Gen Z, Yamaha STSJ Luncurkan Warna Baru Fazzio, Grand Filano, dan Gear Ultima di Surabaya |
|
|---|
| Panen Bawang Merah Melimpah, Bupati Nganjuk Kang Marhaen Tekankan Kesejahteraan Petani |
|
|---|
| Disparbud Kabupaten Malang Evaluasi Keamanan Wisata Pantai Selatan Setelah Insiden Wediawu |
|
|---|
| Gus Salam Dorong Muktamar ke-35 NU Digelar di Pondok Pesantren: Demi Kembalikan Ruh Perjuangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Anggota-Unit-Kerja-Koordinasi-Infeksi-Penyakit-Tropik-IDAI.jpg)