Berita Kesehatan
Dokter Spesialis Paru Ungkap Risiko Serius Sleep Apnea: 75 Persen Berujung Pada Stroke
Dokter spesialis paru Ignatius Hanny Handoko Tanuwijaya mengingatkan gangguan tidur seperti sleep apnea dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Ringkasan Berita:
- Dokter mengingatkan bahwa sleep apnea yang tidak diobati dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko serius seperti stroke (hingga 75 persen) dan penyakit jantung koroner, akibat penurunan oksigen saat tidur.
- Gangguan tidur ini juga memengaruhi metabolisme, dapat memicu obesitas, menurunkan produktivitas, serta ditandai gejala seperti mendengkur keras, henti napas saat tidur, dan kelelahan di siang hari.
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Tidak banyak orang yang menyadari bahayanya gangguan tidur sleep apnea.
Dokter spesialis paru Ignatius Hanny Handoko Tanuwijaya mengingatkan gangguan tidur seperti sleep apnea dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Dia menyebut risiko komplikasi meningkat jika kondisi tersebut tidak ditangani dalam jangka panjang.
“Jika sleep apnea tidak diobati selama 10 hingga 15 tahun, sekitar 75 persen kasus berpotensi berujung pada stroke. Sementara dari sisi jantung, risikonya juga meningkat signifikan, termasuk penyakit jantung koroner,” ujarnya di Nasional Hospital, Rabu (15/4/2026).
Peluncuran National Dream & Sleep Center oleh Nasional Hospital Surabaya menjadi langkah dalam menghadirkan layanan terpadu untuk gangguan tidur.
Fasilitas ini dirancang untuk memberikan diagnosis dan terapi secara komprehensif bagi pasien.
Baca juga: Pakai Alat Canggih dari Islandia, RS di Malang Atasi Pasien Gangguan Tidur, Insomnia hingga Ngorok
Menurut Hanny, gangguan tidur tidak hanya berdampak pada kualitas istirahat, tetapi juga memengaruhi organ vital.
Penurunan kadar oksigen saat tidur dapat mengganggu aliran darah ke otak dan jantung.
“Kondisi ini sering tidak disadari, padahal gejalanya bisa dikenali seperti mendengkur keras, henti napas saat tidur, hingga rasa lelah berlebihan di siang hari,” ujarnya.
Selain itu, gangguan tidur juga berkaitan dengan masalah metabolisme tubuh. Kondisi tersebut dapat memicu peningkatan nafsu makan hingga berujung pada obesitas dan penurunan produktivitas.
Direktur Nasional Hospital, Hendera Henderi, menyampaikan layanan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk memastikan diagnosis lebih akurat. Pendekatan tersebut dilakukan agar terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.
“Kami menghadirkan layanan yang melibatkan berbagai disiplin, termasuk dokter jantung, untuk memastikan penyebab utama gangguan tidur pasien dapat teridentifikasi dengan akurat, sehingga terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Hendera menambahkan kualitas tidur menjadi faktor utama dalam pemulihan tubuh. Durasi tidur saja tidak cukup tanpa kualitas yang baik.
“Bukan sekadar berapa jam seseorang tidur, tetapi bagaimana kualitas tidur tersebut mampu memberikan pemulihan optimal bagi tubuh,” tambahnya.
| Gejala Kanker Ginjal yang Perlu Diwaspadai, Cegah Terserang Penyakit di Bawah Usia 35 Tahun |
|
|---|
| Waspada Lonjakan ISPA Pasca Haji dan Musim Liburan, ini Penjelasan Dokter Spesialis Paru RS Premier |
|
|---|
| Sering Dikira Serangan Jantung Padahal Regurgitasi, Cek 4 Fakta Penyakit GERD yang Perlu Diketahui |
|
|---|
| Cegah Osteoporosis Lewat 10.000 Langkah Menuju Tulang Kuat, Ribuan Orang Jalan Kaki di Surabaya |
|
|---|
| Revolusi Layanan Kesehatan dengan AI: Seberapa Aman? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Dokter-spesialis-paru-Ignatius-Hanny-Handoko-Tanuwijaya-mengingatkan-gangguan.jpg)