Program MBG Dongkrak UMKM Malang, Perajin Keripik Tempe Kirim 2 Kuintal per Minggu

Sehari-hari, Tutik memproduksi tempe dari kedelai mentah di rumahnya, lalu menjual tempe dan keripik tempe secara keliling desa hingga ke pasar

Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Luluul Isnainiyah
MENGGORENG - Pekerja di rumah Tutik menggoreng keripik tempe di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Berkah MBG, produsen keripik tempe banjir pesanan. 
Ringkasan Berita:

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Lu'lu'ul Isnainiyah

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak positif bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), termasuk perajin keripik tempe di Kabupaten Malang.

Salah satunya dirasakan Tutik (48), perajin keripik tempe asal Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen.

Sehari-hari, ia memproduksi tempe dari kedelai mentah di rumahnya, lalu menjual tempe dan keripik tempe secara keliling desa hingga ke pasar.

"Dulu belajar dari ibuk di Kota Malang, sekarang saya meneruskan di rumah sendiri," kata Tutik ketika dikonfirmasi. 

Baca juga: SPPG yang Beri Pisang Mentah ke Siswa di Malang Sudah Ditegur Satgas MBG: Ada Kekeliruan

Permintaan Naik Sejak November 2025

Seiring berjalannya waktu produksi tempe milik Tutik mulai meningkat. Peningkatan ini disebabkan oleh permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program MBG. Hal ini mulai dirasakannya sejak November 2025 lalu. 

Kurang lebih Tutik harus memproduksi 2 kuintal keripik tempe untuk satu minggu. Ini sesuai dengan permintaan SPPG yang ada di Jakarta. Sementara untuk proses pengiriman dari sales yang datang ke rumahnya. 

Baca juga: Aksi Pegawai MBG di Jember Pamer Rencana Gaji Pertama Disorot, Kepala SPPG Minta Maaf, Video Dihapus

"Jadi ada salesnya sendiri yang datang ke rumah, nanti setiap smeinggu sekali itu diambil terus dikirim ke Jakarta," jelas perempuan berusia 48 tahun ini. 

Proses Produksi Butuh Tiga Hari

Sedangkan proses membuat keripik tempe diproses seperti apda umumnya. Yaitu dari kedelai mentah direbus kemudian diberishkan kulit arinya.

Selanjutnya kedelai direndam semalaman setelah itu dicuci sampai bersih. 

Usai dibilas, kedelai kembali direbus dan didinginkan untuk proses pemberian ragi. Kurang lebih dari kedelai mentah hingga menjadi tempe membutuhkan waktu tiga hari. 

"Kalau keripik tempe ini kedelai yang sudah diragi dimasukkan ke dalam plastik satu meteran. Kalau sudah mateng baru tempe diiris tipis pakai mesin lalu digoreng pakai tepung dan bumbu rempah," sambungnya. 

Sehari ia mampu memproduksi 50 kilogram keripik tempe. Ia menjual keripik tempe dalam bentuk kemasan kecil seharga Rp 5.500. Sedangkan untuk satu kilogram keripik tempe ia jual dengan harga Rp 55 ribu.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved