Pembatasan Gadget untuk Anak, DPRD Kota Malang: Orangtua Jadi Kunci Utama

Menurut Suyadi, kebijakan di tingkat daerah pada dasarnya akan mengikuti arah kebijakan nasional yang telah melalui proses kajian para ahli,

Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin
TribunJatim.com/SAMSUL HADI
PEMBATASAN MEDIA SOSIAL - Ilustrasi anak sekolah, Kebijakan pembatasan penggunaan gawai dan media sosial pada anak usia dini menuai beragam respons. Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Suyadi, menilai kebijakan tersebut perlu disikapi secara bijak, Senin, (30/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • DPRD Kota Malang menilai pembatasan gawai perlu dikaji matang dan melibatkan peran orangtua.
  • PGRI mendukung kebijakan karena dinilai menjaga fokus belajar dan melindungi anak dari dampak negatif.
  • Regulasi daerah dinilai penting untuk memperkuat implementasi kebijakan dari pemerintah pusat.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kebijakan pembatasan penggunaan gawai dan media sosial bagi anak usia dini memicu pro dan kontra di masyarakat.

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Suyadi, menilai kebijakan tersebut perlu disikapi secara bijak dengan mempertimbangkan kajian serta kesiapan semua pihak, terutama orangtua.

Menurut Suyadi, kebijakan di tingkat daerah pada dasarnya akan mengikuti arah kebijakan nasional yang telah melalui proses kajian para ahli, meskipun pro dan kontra di masyarakat merupakan hal yang wajar.

DPRD: Kebijakan Harus Dikaji Menyeluruh

“Setiap kebijakan pendidikan pasti ada pro dan kontra. Ini juga sudah disampaikan di tingkat pusat, tinggal kita menunggu petunjuk teknis ke depan,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia menilai, anak usia dini seperti PAUD hingga sekolah dasar sebenarnya tidak akan tertinggal jika tidak menggunakan gawai. Bahkan, pembatasan dinilai lebih baik untuk perkembangan mental dan karakter anak.

Baca juga: Mulai April 2026, Dindik Jatim Uji Coba Pembatasan Gadget Pada Siswa SMA & SMK, Larang Main Game

“Kalau jujur, anak usia 0–7 tahun tanpa gawai tidak akan ketinggalan. Justru lebih baik, karena mereka belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk,” katanya.

Namun, tantangan utama justru terletak pada kesiapan orangtua. Suyadi menyebut, tidak sedikit orangtua yang justru menjadikan gawai sebagai solusi praktis untuk menenangkan anak.

“Masalahnya orangtua sering tidak punya waktu. Kadang anak diberi gawai supaya tenang, padahal itu tidak membangun karakter,” tegasnya.

Ia menambahkan, penggunaan gawai sebenarnya dapat menjadi sarana belajar, namun dalam praktiknya sering kali tidak dimanfaatkan untuk tujuan edukasi.

Orangtua Jadi Tantangan Utama

“Di gawai atau media sosial bisa belajar apa saja, tapi kenyataannya banyak anak tidak menggunakannya untuk pendidikan,” ujarnya.

Suyadi menekankan pentingnya peran semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, orangtua, hingga media, dalam mengedukasi masyarakat terkait dampak positif dan negatif penggunaan gawai.

“Kami akan mendorong Dinas Pendidikan untuk memiliki strategi menghadapi ini. Nanti akan kami ajak rapat dengar pendapat untuk membahas langkah konkret,” jelasnya.

Ia juga menyoroti adanya penurunan nilai-nilai karakter pada anak seiring perkembangan teknologi. Lelaki yang memiliki pengalaman mengajar tersebut menilai, anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar. Oleh karena itu, perlu ada sosok yang menjadi inspirator baik di kelas maupun rumah. Namun nyatanya anak banyak mengenal sosok dari media sosial.

“Sekarang yang menjadi model bukan lagi orangtua atau guru, tapi tontonan di media sosial,” ungkapnya.

Baca juga: Menteri PPPA Tekankan Peran Orang Tua dalam Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved