Gaya Hidup Belanja Online
Curhat Kurir di Malang, Dampak Buruk Gagal COD pada Penilaian Kinerja hingga Risiko Nonaktif
Terdapat banyak kasus gagal COD atau pembayaran di tempat yang harus diterima oleh kurir.
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Alga W
Ringkasan Berita:
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Rifki Edgar
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Di tengah semakin berkembangnya penjualan online di Indonesia melalui marketplace, banyak risiko yang harus dihadapi para kurir.
Bahkan, tak jarang mereka kerap mengalami sejumlah kerugian sebagai bagian dari risiko pekerjaan mereka.
Baca juga: Tarik Tiket Masuk di Bawah Air Terjun, Pengelola Coban Sewu Dilaporan ke Polres Lumajang
Sebagai aktor utama yang bertugas untuk mengirimkan paket dari penjual kepada pembeli maupun sebaliknya, kurir dituntut harus melayaninya dengan sepenuh hati.
Apabila paket rusak atau hilang di tengah perjalanan, itu sudah menjadi risiko pekerjaan yang harus dihadapi oleh kurir.
Namun, ada hal lain yang ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada para kurir.
Yakni terkait dengan penilaian kinerja.
Penilaian kinerja tersebut biasanya terdapat di marketplace, ketika barang yang diantarkan telah sampai.
Biasanya, penilaian kinerja tersebut bisa dinilai sendiri oleh pembeli setelah mereka mendapatkan paketnya.
Namun yang menjadi persoalan, terdapat banyak kasus gagal COD atau pembayaran di tempat yang harus diterima oleh kurir.
Hal tersebut berdampak kepada penilaian kerja mereka.
Apabila kondisi tersebut terus meningkat, mereka dapat dinonaktifkan dari pekerjaan mereka.
"Kalau pas COD tapi pembelinya gak mau bayar itu yang rugi juga kami," kata M Choirul, salah satu kurir pengantar paket.
Ia memberikan kesaksiannya kepada TribunJatim.com terkait risiko pekerjaannya di Malang pada Senin (13/4/2026).
"Ruginya bukan materi, tetapi ke penilaian kinerja," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/kurir-mengirimkan-paket-ke-titik-lokasi-rumah-penerima-di-Kota-Malang.jpg)