Gaya Hidup Belanja Online

Curhat Seller Gamis di Malang, Jualan Online Makin Berat: COD dan Retur Bikin Rugi

Di balik ramainya tren live selling dan belanja online, para pelaku usaha justru menghadapi tantangan baru

Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network/Benni Indo
BISNIS ONLINE - Pegawai di Oliviamo.id sedang jualan langsung di platform online. Para penjual menghadapi tantangan yang tidak mudah berjualan online karena peraturan yang dianggap tidak adil. 

Ringkasan Berita:
  • Penjual mengeluhkan kebijakan COD dan retur yang merugikan. 
  • Kerugian bisa mencapai belasan juta rupiah per bulan. 
  • Penjual mulai mempertimbangkan kembali bisnis offline.

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Di balik ramainya tren live selling dan belanja online, para pelaku usaha justru menghadapi tantangan baru.

Suara riuh para pegawai berpadu dengan sapaan ramah terdengar bersahutan dari dalam sebuah toko di sudut wilayah Kecamatan Singasari, Minggu (12/4/2026). 

Lampu ring light menyala terang. Seorang pegawai berdiri di depan kamera ponsel, tersenyum lebar sambil mengangkat sehelai gamis berwarna pastel. Itulah suasana di toko Oliviamo.id, milik Olivia Monica.

“Ini best seller, kak! Bahannya adem dan nyaman banget dipakai,” ujarnya penuh semangat.

Di sisi lain ruangan, beberapa pegawai tampak sibuk melipat pakaian dengan rapi, menyusun gamis berdasarkan warna dan ukuran. Rak-rak penuh busana gamis berjejer, sementara kardus-kardus pengiriman menumpuk di sudut, menandakan betapa tingginya arus transaksi yang keluar masuk setiap harinya.

Baca juga: Lika Liku Bisnis Online Hingga Menjadi Gaya Hidup Belanja Pelanggan di Kota Batu

Kebijakan COD Dinilai Merugikan

Namun, di balik riuhnya aktivitas itu, tersimpan kegelisahan yang tak kasatmata. Olivia Monica bercerita betapa tantangan jualan saat ini tidak semakin mudah. Aturan yang diberlakukan oleh penyedia platform dirasa sangat memberatkan, di sisi lain, pemerintah tidak hadir di dalamnya.

“Kalau dilihat dari luar, memang kelihatan ramai, hidup. Tapi sebenarnya sekarang jualan online itu makin berat,” ujarnya pelan.

Olivia bukan pemain baru di dunia bisnis fashion gamis. Ia telah merasakan masa ketika berjualan di platform digital terasa adil dan menjanjikan. Namun kini, menurutnya, situasi telah berubah drastis.

Salah satu yang paling membebani adalah kebijakan baru terkait sistem pembayaran Cash on Delivery (COD) yang kabarnya akan segera diberlakukan dalam waktu dekat. Dalam praktiknya, banyak barang yang dikembalikan bukan karena kesalahan penjual.

“Sering banget barang itu dikembalikan. Alasannya di aplikasi ditolak atau tidak ada respons dari customer, padahal sebenarnya barangnya tidak pernah diantar,” ungkap Olivia .

Masalahnya tidak berhenti di situ. Setiap barang yang gagal sampai ke tangan pembeli kini justru menjadi beban biaya bagi penjual.

Baca juga: Belanja Online Habis Rp 150 Juta, Wiwik Lemas Paket Emas 75 Gram Tak Datang, Ogah Klaim Asuransi

Retur Otomatis Tanpa Verifikasi

“Sekarang kalau COD ditolak, kami kena biaya Rp10.000 per barang. Padahal itu bukan kesalahan kami,” katanya.

Angka itu mungkin terdengar kecil, tetapi tidak jika terjadi ratusan kali dalam sebulan. Ia mencontohkan, dalam masa sebelum Lebaran kemarin, ada pengembalian barang yang jumlahnya lebih dari 50.

“Kalau sehari bisa satu karung barang yang ditolak, bayangkan sebulan bisa sampai belasan juta rupiah kerugiannya,” lanjutnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved