Kabar Gembira, TNBTS Temukan Dua Spesies Anggrek Langka di Gunung Semeru

Berdasarkan informasi dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dua spesies baru tersebut adalah Anoectochilus papuanus

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/TNBTS
Spesies anggrek baru yang ditemukan di Gunung Semeru. Berdasarkan informasi dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dua spesies baru tersebut adalah Anoectochilus papuanus dan Aconthophippium bicolor. 

Identifikasi yang telah dilakukan juga menyatakan kedua spesies anggrek baru itu tergolong cukup langka karena relatif sulit ditemukan di habitat alaminya. 

Namun, status konservasi yang lebih spesifik dan resmi masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pegiat budidaya anggrek asal Kota Batu, Dedek Setia Santoso, menyambut positif penemuan dan identifikasi spesies anggrek baru di Indonesia. 

Menurutnya, temuan-temuan tersebut dapat memperkaya khazanah jenis anggrek nasional dan berpotensi menjadi bahan pengembangan varietas baru.

Dedek mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan spesies anggrek yang sangat besar. Bahkan, jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu spesies dan terus bertambah seiring adanya penelitian maupun temuan baru dari para pecinta anggrek.

“Banyak anggrek baru yang ditemukan, bahkan banyak juga dari orang-orang anggrek sendiri,” ujar Dedek.

Ia menjelaskan, dalam dunia budidaya anggrek terdapat dua kelompok utama, yakni anggrek spesies dan anggrek hybrid atau hasil persilangan. Menurutnya, banyak jenis anggrek di Indonesia yang telah dipatenkan.

Meski demikian, tidak semua anggrek baru memiliki nilai ekonomis tinggi atau layak dikembangkan secara komersial.

“Belum tentu punya nilai komersial. Misalkan ditemukan jenis baru, belum tentu bisa diperjualbelikan atau diminati penghobi,” katanya.

Menurut Dedek, terdapat sejumlah faktor yang membuat anggrek spesies baru sulit dikembangkan. Salah satunya adalah regulasi yang cukup ketat untuk mendapatkan anggrek spesies tertentu.
Selain itu, faktor agroklimat juga menjadi tantangan utama dalam budidaya anggrek.

“Perbedaan agroclimate menjadi faktor penting untuk tempat hidup anggrek. Kalau di luar lingkungan aslinya, para kolektor atau petani enggan memelihara karena risiko matinya sangat tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat maupun penghobi umumnya lebih tertarik pada jenis anggrek yang mudah dirawat dan memiliki nilai jual tinggi. Beberapa di antaranya seperti anggrek bulan, cattleya, dan anggrek macan.

“Yang punya nilai ekonomis tinggi itu rata-rata anggrek yang bisa dirawat. Karena anggrek bagus pun belum tentu masyarakat bisa memeliharanya,” ujarnya.

Dedek berharap semakin banyak peneliti maupun pecinta anggrek di Indonesia yang aktif melakukan identifikasi dan pengembangan spesies anggrek lokal.

“Ya saya sangat senang sekali anggrek-anggrek itu ditemukan atau diidentifikasi oleh siapa saja, khususnya orang Indonesia. Itu menambah koleksi jenis anggrek di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, penemuan spesies baru juga dapat menjadi bahan persilangan untuk menghasilkan varietas anggrek baru yang lebih bernilai ekonomis di masa depan.


Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved