Berita Viral

Program MBG dengan Pemberian Menu Kering Ternyata Masih Picu Siswa Mokel saat Puasa

Program MBG di Kabupaten Pati ternyata malah memberikan dampak memicu siswa mokel atau batalkan puasa sebelum waktu berbuka.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ignatia | Editor: Ignatia Andra
Tribun Jogja
PICU MOKEL - Ilustrasi menu kering dalam sebuah program MBG di kawasan Jawa Tengah. Siswa di Pati bermasalah dengan menu kering yang ternyata memicu mokel, PCNU Pati minta agar menu diganti sembako saja 

Sementara itu, Koordinator MBG wilayah Pati, Ahmad Khoirul Basar, menegaskan bahwa pihak sekolah memang memiliki kewenangan untuk menolak program tersebut selama bulan puasa.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap menjalankan distribusi seperti biasa bagi sekolah yang bersedia, namun bagi yang keberatan cukup melampirkan surat pernyataan resmi.

Baca juga: Pernah Dipenjara, Residivis Kasus Narkoba Jombang Tak Kapok, Masih Geluti Kejahatan yang Sama

Marwah program MBG

Program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis terutama bagi anak-anak sekolah, balita, serta kelompok rentan.

Ide utamanya adalah bahwa kualitas pendidikan dan kemampuan belajar anak tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas sekolah, tetapi juga oleh kondisi gizi mereka.

Dengan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup setiap hari, pemerintah berharap dapat meningkatkan konsentrasi belajar, kesehatan, serta perkembangan fisik dan kognitif generasi muda.

Selain aspek kesehatan, marwah MBG juga berkaitan dengan strategi pembangunan jangka panjang di Indonesia.

Pemerintah memandang masalah gizi seperti stunting, kekurangan protein, dan ketimpangan akses makanan sehat sebagai hambatan besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Melalui program ini, negara berupaya melakukan intervensi langsung pada tahap paling awal kehidupan manusia, sehingga di masa depan Indonesia memiliki generasi yang lebih sehat, produktif, dan kompetitif secara global.

Dengan kata lain, MBG bukan hanya program bantuan makanan, tetapi juga investasi sosial dan ekonomi untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional.

Di sisi lain, program ini juga memiliki dimensi ekonomi kerakyatan.

Konsep pelaksanaannya sering dikaitkan dengan pelibatan petani, peternak, nelayan, dan usaha kecil sebagai pemasok bahan pangan untuk kebutuhan dapur program tersebut.

Dengan demikian, selain meningkatkan gizi anak-anak, MBG juga diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal, menciptakan rantai pasok pangan domestik yang lebih kuat, serta memperluas pasar bagi produk pertanian dan peternakan dalam negeri.

Kombinasi antara peningkatan gizi, pembangunan manusia, dan penguatan ekonomi lokal inilah yang sering dipandang sebagai “marwah” atau ruh utama dari program MBG.

Berita viral lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews TribunJatim.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved