Ramadan 2026

Strategi Puasa Ramadan untuk Penyintas GERD agar Asam Lambung Tak Kambuh

bagi penyintas Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), setiap hari di bulan Ramadhan adalah perjuangan

Editor: Samsul Arifin
TribunJatim.com/Nurika Anisa
PUASA BEBAS GERD - Ilustrasi, Grand Swiss-Belhotel Darmo Surabaya menghadirkan menu berbuka puasa bertemakan India “The Taj Mahal Agra” dengan sajikan 200 menu, Senin (24/3/2025) lalu. Penyintas GERD perlu strategi khusus agar puasa tetap aman dan nyaman. 

Ringkasan Berita:
  • Penyintas GERD perlu strategi khusus agar puasa tetap aman dan nyaman.
  • Hindari makan berlebihan, makanan pedas, berminyak, asam, serta minuman dingin saat berbuka.
  • Pilih menu sahur dan buka yang ringan, berkuah bening, tinggi protein, serta cukup air putih.

TRIBUNJATIM.COM - Waktu berbuka puasa adalah waktu yang dinanti oleh umat Muslim yang sedang menjalani puasa Ramadan. 

Namun bagi penyintas Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), setiap hari di bulan Ramadhan adalah perjuangan menjaga asam lambung tetap stabil agar tidak memicu nyeri dan sesak.

Menahan lapar dan haus belasan jam bukan sekadar ujian fisik, melainkan juga soal manajemen pola makan dan ketenangan mental.

Dua penyintas GERD, Rusintha Mahayusanty (31) dan Garudea Prabawati (35), membagikan pengalaman mereka menjalani puasa tanpa harus menyerah pada serangan asam lambung.

Baca juga: Awal Puasa 2026, Malaysia dan Singapura Serentak Mulai Ramadan Hari Kamis 19 Februari

Serangan GERD di Tengah Puasa

Rusintha mengaku pernah mengalami serangan GERD yang cukup berat saat berpuasa.

"Rasanya sangat sakit sampai sesak nafas," kenangnya, Selasa (17/2/2026).

Serangan biasanya muncul menjelang waktu berbuka. Meski berusaha bertahan, ia tetap realistis. Jika gejala memburuk hingga muntah hebat, membatalkan puasa menjadi pilihan medis yang harus diambil demi keselamatan.

Baca juga: Tarawih Perdana, Jemaah Muhammadiyah Ponorogo Penuhi Masjid Baitul Mukhlisin hingga Lantai Dua

Sementara itu, Garudea atau Dea merasakan fase adaptasi berat di awal Ramadhan.

"Di hari pertama sampai kedua, biasanya ada rasa pusing dan sedikit 'engap' di ulu hati," ujarnya.

Namun dengan manajemen nutrisi yang disiplin, Dea mengaku bisa menjalani puasa tanpa perlu membatalkannya karena kambuh.

Balas Dendam di Meja Makan

Kedua penderita GERD ini sepakat bahwa musuh terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan "balas dendam" yang salah saat berbuka.

Ada beberapa kebiasaan pemicu yang mereka rangkum sebagai pantangan utama.

Rusintha menekankan bahwa mengisi perut kosong secara mendadak dengan porsi besar adalah kesalahan fatal.

Makanan pedas, berminyak, dan asam bagi Rusintha adalah pemicu utama perut terasa begah dan perih.

Di sisi lain, Dea menyoroti satu kebiasaan umum yang sering dianggap remeh, yakni meminum es teh saat berbuka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved