Hikmah Ramadan
Menyelami Kedalaman Taubat: Inabah dan Istijabah
Tentu kita berharap taubat yang dilakukan semakin jauh meninggalkan taubat dasar, taubat yang lazim dilakukan oleh orang-orang awam.
Oleh : Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
TRIBUNJATIM.COM - Dalam pandangan ulama spiritual, taubat itu bertingkat-tingkat.
Tentu kita berharap taubat yang dilakukan semakin jauh meninggalkan taubat dasar, taubat yang lazim dilakukan oleh orang-orang awam.
Taubatnya orang awam ketika bertaubat setelah melakukan dosa besar.
Taubat semakin meningkat jika dosa-dosa kecil pun ditaubatkan, karena sadar, bahwa dosa-dosa kecil yang menumpuk bisa menjadi dosa besar.
Bulan suci Ramadan sebagai bulan pertobatan (syahr al-taubah) sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan pertobatan. Syukur kalua bisa menjalani taubat lebih tinggi.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Spirit Memulai Usaha Halal
Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah.
Taubat inabah ialah sikap taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya, sehingga terbayang di benaknya kerugian besar di dunia dan siksa dan malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka.
Dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT. Dalam suasana takut seperti itu ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah.
Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.
Siang dan malam selalu melakukan ketaatan dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa).
Sebesar apapun dosa seseorang pengampunan dosa jauh lebih besar.
Adapun taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya.
Taubat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap taubat inabah.
Taubat istijabah ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya ketimbang panasnya api neraka-Nya. Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-dalam-artikel-Hikmah-Ramadan-2025-berjudul.jpg)