Hikmah Ramadan
Menyelami Kedalaman Taubat: Inabah dan Istijabah
Tentu kita berharap taubat yang dilakukan semakin jauh meninggalkan taubat dasar, taubat yang lazim dilakukan oleh orang-orang awam.
Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya tetapi malah melakukan dosa dan maksiyat.
Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya.
Baca juga: Hikmah Ramadan : Memakmurkan Masjid dan Dimakmurkan Masjid
Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk ke dalam neraka. Seandainya disuruh memilih disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya, maka ia akan memilih disiksa di neraka ketimbang bahagia sesaat di dunia.
Pertanyaan kita adalah, jenis tobat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan?
Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksyat? Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa?
Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT?
Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, na’udzu billah.
Tak terkecuali siapa pun di antara kita sepantasnya mengintip umur kita.
Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.
Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figure keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita? Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan.
Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita.
Di depan mereka kita malaikat, tetapi di luar sana kita iblis. Masyarakat modern sarat dengan tradisi hipokrasi dan kemunafikan.
Hanya karena menginginkan jabatan atau harta maka di antara mereka mengorbankan musuh-musuhnya. Semoga kita semua bisa meraih taubat Istijabah pada bulan Ramadan kali ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-dalam-artikel-Hikmah-Ramadan-2025-berjudul.jpg)