Hikmah Ramadan

Puasa sebagai Terapi Spiritual Menghilangkan Stres

Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa (state of mind). Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
Istimewa
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin (6/1/2024). Puasa sebagai terapi spiritual menghilangkan stres. 

Puasa Menghilangkan Stres

Oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar

TRIBUNJATIM.COM - Salah satu penyakit masyarakat modern adalah stres. Jika harapan tidak berkesesuaian dengan kenyataan, maka di situ berpotensi timbul stres.

Apalagi jika kebutuhan itu sudah betul-betul mendesak tetapi solusi tak kunjung datang. 

Di sinilah puasa memegang peranan penting untuk meminimalisir atau menghilangkan stres. 

Kita perlu menyadarkan diri kita bahwa kenyamanan mungkin bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, keindahan bisa disaksikan di objek-objek wisata, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.

Baca juga: Jadwal Buka Puasa di Lamongan, Lengkap Beserta Waktu Imsak Ramadan 2026

Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan. 

Ketenangan bukan hanya milik orang kaya atau pejabat, tetapi ketenangan juga bisa dirasakan oleh orang-orang miskin.

Ketenangan lebih merupakan akibat daripada sebab. Ketenangan dan kebahagiaan adalah pemberian (given/kasab) dari Tuhan. Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa (state of mind).

Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan ketenangan. Di sinilah arti penting puasa

Puasa merupakan spiritual training untuk melawan keinginan diri paling efektif. Bukankah berpuasa berarti menahan diri tidak makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan yang berselera rendah lainnya. Puasa mendidik jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani.

Orang-orang arif sering mengatakan, puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin. Nabi Muhammad Saw. juga pernah mengatakan: Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu. Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa takjub sepenuhnya kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka merasa bahagia dan tenang. Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya, karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar (Ya Allah, anugerahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka). Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif. “Dunia adalah cermin akhirat,” demikian kata Nabi.

Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdhah seperti salat, zakat, haji, bahkan puasa pun membutuhkan biaya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved