Hikmah Ramadan

Puasa sebagai Terapi Spiritual Menghilangkan Stres

Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa (state of mind). Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan.

Tayang:
Editor: Torik Aqua
Istimewa
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin (6/1/2024). Puasa sebagai terapi spiritual menghilangkan stres. 

Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia. Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin ialah, menurut para ‘arifin, menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.

Idealnya setiap orang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Gua Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping istrinya Khadijah yang kaya dan bangsawan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari gua yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ‘uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk-pikuk pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i‘tikaf di salah satu masjid, misalnya yang sering dilakukan di dalam bulan suci Ramadan.

Salah satu keutamaan Ramadan ialah tersedianya waktu dan tempat untuk beriktikaf, yakni berdiam diri melakukan muhasabah di masjid karena Allah SWT. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, salat, tafakkur, dan berzikir.

Niatkan bahwa masjid ini adalah Gua Hira atau Gua Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad SAW dan Ashabul Kahfi, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa fakir (miskin di mata Tuhan), apalagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan akan melahirkan generasi lemah (dha‘if) di mata Allah.

Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak. Kita perlu mengingat bahwa jika kehidupan di akhirat setara dengan 1.000 tahun dunia, maka kalau ada orang dikaruniai usia 70 tahun, itu artinya sekitar tiga menit di akhirat.

Maukah kita menukar hanya tiga menit dengan keabadian akhirat? Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah.

Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzakh dan alam baqa di akhirat.

Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan sedekah, luruskanlah pikiran kita dengan zikirullah, dan lembutkanlah jiwa kita dengan tafakkur dan tadzakkur, serta teguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma‘ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita). Semoga dengan berpuasa sebulan penuh, stres kita akan hilang. Amin.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved